Kehidupan Nabi Muhammad saw

Warisan Budaya Alamiah

Israk Mikraj hakikat perjalanan hidup manusia

Posted by Sifuli di 9 Julai 2010

Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS al-Isra': 1)

Setiap kita mengingat atau merenungkan kembali kisah isra mikraj yang disebutkan dalam Alquran selalu ada keraguan sebagian orang. Apa betul kisah itu terjadi dengan seluruh jiwa dan raga Nabi Muhammad saw melakukan perjalanan yang sangat fenomenal.

Sebuah perjalanan kontradiktif yang disebutkan melintasi berbagai alam/qanun (basyariyah, malakiyah dan Ilahiyah) dan bertemu dengan Tuhannya. Sebagai muslim, apabila Alquran menceritakan suatu kepada kita, maka tidak ada sikap lain bagi kita melainkan harus mengimaninya. Hal itu karena datangnya dari Allah.

Dan tidak ada kewenangan bagi akal untuk mengutak-atiknya dengan menjadikan peristiwa-peristiwa di muka bumi sebagai tolok ukur untuk menguji kebenaran peristiwa yang disampaikan Allah lewat Alquran itu. Juga tidak wajar pula jika kita menjadikan undang-undang ciptaan Allah yang berbeda dengan undang-undang ciptaan manusia itu.

Maka selagi Allah mengatakan begini dan begitu, maka seorang mukmin mengimaninya. Baru setelah itu akalnya dipergunakan untuk membuat perbandinngan guna memperkuat kebenaran apa yang disebutkanNya.

Dalam menyampaikan berita peristiwa Isra dan Mikraj ini, Allah Ta’ala memulainya dengan kata “Subahana” (Maha Suci)…. Makna “Subhana” memberikan pengertian dalam hati seorang muslim bahwa di sana ada kekuataan yang jauh dari segala macam perbandingan.

Kekuatan yang jauh melampaui segala kekuatan manusia di muka bumi. Oleh Prof Dr Mutawalli Asy Sya’rawi (Guru Besar Universitas Al-Azhar) makna subhana ialah bahwa Allah itu Maha Suci Zat-nya dan perbuatan-Nya dari segala kesamaan. Kalau ada suatu macam perbuatan atau peristiwa yang di situ Allah mengatakan bahwa “Peristiwa itu Dia yang Melakukan”, maka saya harus mensucikan (tansih) Dia dari segala undang-undang dan ketentuan yang berlaku bagi manusia.

Saya tidak mengukur perbuatan Allah itu dengan perbuatan saya. Oleh karena itu, surat ini dimulai dengan kata “Subahana” (Maha Suci) yang menimbulkan kesan di dalam hati bahwa peristiwa itu adalah luar biasa, di luar jangkauan akal dan kemampuan teknologi manusia.

Rasionalitas yang Terbatas

Hikmah Isra Mikraj mengajarkan kita bahwa kemampuan rasionalitas akal yang dikembangkan berdasar pengetahuan empiris manusia mempunyai keterbatasan. Ada suatu kebenaran yang keberadaannya tidak bisa diyakini hanya melalui metodologi sains.

Metodologi sains berbasis pada pengujian pengamatan empiris untuk mengetahui keberadaan dan karakteristik hukum (fisik) alam. Selain itu “derajat kekomplitan” pengetahuan manusia juga terbatas, hanya mendasarkan pada fakta yang tak lengkap atas sesuatu yang teramati.

Pengetahuan alam semesta sangat luas, bahkan lebih luas dari apa yang dipikirkan. Ada kebenaran yang terungkap setelah pengetahuan dan kemampuan manusia bertambah. Pengetahuan ini adalah anugerah Allah, jalan untuk mencapainya tak terprediksi sebelumnya.

Maka di sinilah akal harus tunduk pada keimanan. Keimanan datang dari informasi tepercaya (Alquran) dengan pemahaman yang dibangun oleh akal bisa terpisah oleh waktu. Proses pengertian oleh akal kadang-kadang memerlukan waktu yang lama.

Pemahaman atas sesuatu kadang-kadang memerlukan proses yang panjang dan bertahap dengan hierarkinya tersendiri. Bila persoalan keimanan tanpa sarat dan keimanan melalui rute dan proses pemahamannya terlebih dulu dipaksakan untuk dicarikan titik temunya, akan terjadi kegagalan. Dasar keimanan inilah yang diperlukan ketika memahami suatu peristiwa yang tidak bisa dijangkau oleh akal.

Pemahaman akal bisa menyusul kemudian atau bila akal tak bisa mencapainya sepanjang hayat, keimanan dapat tetap ada. Tidak semua fenomena alam bisa dimengerti oleh akal dan proses pemahamannya bisa berlangsung lebih panjang dari usia manusia.

Tidak heran, jika seorang tokoh eksistensialisme Kierkegaard menyatakan bahwa seseorang percaya bukan karena ia tahu, melainkan percaya karena ia tidak tahu. Sedang Imannuel Kant, filsuf dan ahli metafisika Jerman mengatakan bahwa ia terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah yang ia lakukan demi menyediakan waktu bagi hatinya untuk percaya.

Perjalan Rohani Menuju Tuhan

Perjalanan Rasulullah Muahmmad saw yang berangkat dari bumi yang rendah menuju al-Muntah╬▓ adalah cerminan perjalanan hidup kita sebenarnya. Siapakah kita ini sebenarnya. Kita adalah para pencari Tuhan, sang Maha Kekasih, yang selalu didambakan. Para pencari Tuhan harus melewati jalan yang tidak mudah untuk bertemu denganNya.

Dalam perjalanan puncaknya, para pencari Tuhan melihat Allah tidak lagi merupakan abstraksi. Bukan pula zat yang hanya diketahui melalui ayat-ayatNya (tanda-tandaNya). Dia di”saksikan”, dirasakan kehadiranNya. KeagunganNya tidak lagi dibaca, tetapi di”lihat”. KeindahanNya tidak lagi dibuktikan, tetapi di”nikmati”.

Inilah jalan menuju wara’. Ibnu al-Qayyim menyebutkan, tahap menuju wara’ dimulai dengan meninggalkan kejelekan, menjauhi hal yang diperbolehkan karena khawatir jatuh pada yang dilarang, dan menjauhi apa saja yang membawa orang kepada selain Dia, (Madarij al-Salikin 2:24).

Apa yang Nabi Muhammad saw alami ketika beliau akan melakukan perjalanan Isra mikraj dimulai dengan dibersihkan hatinya dengan air zam-zam merupakan konsep dari hikmah yang harus ditiru dalam mencapai pembersihan hati dari seorang hamba. Sungguh, kita semua juga sedang dalam perjalanan. Perjalanan “suci” yang seharusnya dibangun dalam suasana “kefitrahan”.

Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Itulah yang senantiasa kita lakukan. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai “nurani”, itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya yang merupakan petunjuk adalah berpusat pada hati seseorang. Dan cahaya itu kadang-kadang redup karena adanya gesekan-gesekan “karat” kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat (maksiat dan dosa), semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha).

Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan, diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melengket. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian “penentu” baik atau tidaknya seseorang pemilik hati. Inilah hakikat perjalanan kita menuju Tuhan.

Hati yang bersih, inilah yang diperlukan sekarang dalam membangun Indonesia sejahtera dan damai. Apa yang baru kita alami dari pesta demokrasi dengan terpilihnya calon presiden baru, hingga merobeknya nilai kewibawaan bangsa kita dengan peristiwa bom bunuh diri, adalah menjadi catatan tersendiri yang harus selalu direnungkan.

Membangun Indonesia yang sejahtera dan damai diperlukan hati nurani yang bersih, suci dan penuh nilai-nilai religius. Tata nilai kebangsaan harus ditegakkan dan kemandirian bangsa diperkokoh serta keadilan yang merata dapat dirasakan oleh semua elemen bangsa. Cita-cita ini hanya dapat terwujud jika kepemimpinan mengedepankan hati nurani yang bersih, suci dan tawadhu. Inilah yang melahirkan sikap zuhud.

Pengalaman isra mikraj Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita bahwa hakikat hidup sesungguhnya bukanlah terletak kepada apa yang kita perbuat, tetapi seberapa banyak yang kita sudah perbuat untuk kemaslahatan bangsa. Untuk mencapai semua itu diperlukan perjuangan yang tidak sedikit. Sebuah perjuangan yang membutuhkan pengorbanan yang melahirkan keikhlasan dalam beramal.

Oleh Muhammad Khidri Alwi

About these ads

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers