Kehidupan Nabi Muhammad saw

Warisan Budaya Alamiah

  • Kehidupan Nabi Muhammad saw


    Contohilah baginda

  • Jumlah Pengunjung

    • 410,885 hits
  • Log Keluar / Masuk

Archive for 11 Julai 2010

Pakaian Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

“Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. adalah Gamis.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Humaid ar Razi, dari al Fadhal bin Musa, diriwayatkan pula oleh Abu Tamilah dan Zaid bin Habab, ketiganya menerima dari Abdul Mu’min bin Khalid, dari Abdullah bin Buraidah, yang bersumber dari Ummu Salamah r.a.)

• Ummu Salamah r.a. adalah Ummul Mu’minin Hindun binti Mughirah al Makhzumiyah.

“Sesungguhnya Nabi saw. keluar (dari rumahnya) dengan bertelekan kepada Usamah bin Zaid. Beliau memakai pakaian Qithri yang diselempangkan di atas bahunya, kemudian beliau shalat bersama mereka.” (Diriwayatkan oleh `Abd bin Humaid , dari Muhammad bin al Fardhal, dari Hammad bin Salamah, dari Habib bin as Syahid, dari al Hasan, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Qithri adalah sejenis kain yang terbuat dari katun yang kasar. Kain ini berasal dari Bahrain tepatnya dari Qathar.

Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik r.a. mengemukakan: “Pakaian yang paling disenangi Rasulullah saw. ialah kain Hibarah*.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Mu’adz bin Hisyam dari ayahnya, dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• Kain Hibarah ialah kain keluaran Yaman yang terbuat dari katun.

“Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian sewaktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik- baik pakaian bagi kalian.”
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Basyar bin al Mufadhal, dari `Utsman Ibnu Khaitsam, dari Sa’id bin Jubeir, yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

“Rasulullah saw. bersabda : “Pakailah pakaian putih, karena ia lebih suci dan lebih bagus. Juga kafankanlah ia pada orang yang meninggal diantara kalian.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib yang bersumber dari Samur bin Jundub r.a.)

SERBAN RASULULLAH SAW

“Nabi saw. memasuki kota Mekkah pada waktu pembebasan kota mekkah,beliau memakai serban hitam.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Hammad bin Salamah. Hadist inipun diriwayatkan pula oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Hammad bin Salamah, dari Abi Zubair, yang bersumber dari Jabir r.a.)

“Sesungguhnya Nabi saw. berpidato da hadapan umat, beliau memakai serban hitam.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan,dan diriwayatkan pula oleh Yusuf bin `Isa,keduanya menerima dari Waki’, dari Musawir al Waraq, dari Ja’far bin `Amr bin Huraits,yang bersumber dari bapaknya.)

KHUF RASULULLAH SAW

“Sesungguhnya raja *an-Najasyi menghadiahkan sepasang khuf hitam pekat kepada Nabi saw. lalu Nabi saw. memakainya dan kemudian ia berwudlu dengan (hanya) menyapu keduanya (yakni tidak membasuh kaki).”(Diriwayatkan oleh Hinad bin Siri, dari Waki’, dari Dalham bin Shalih, dari Hujair bin `Abdullah, dari putera Buraidah, yang bersumber dari Buraidah r.a.)

• Khuf ialah sejenis kaos kaki tapi terbuat dari kulit binatang. Khuf dibuat amat tipis dan tingginya menutupi mata kaki. Khuf biasanya hanya digunakan pada musim dingin untuk mencegah agar kulit kaki tidak pecah-pecah. Biasanya, orang memakai khuf ketika musafir di musim dingin dan masih memakai sepatu luar lagi. Sepatu ini namanya “jurmuq”. Para Ulama Indonesia sering menggunakan istilah Mujah untuk terjemahan khuf. Tapi kadangkadang diterjemahkan juga dengan “sepatu khuf”.

• An najasyi menurut literature barat umumnya disebut Negust. Negust adalah gelar raja-raja di Abesina (Habsyi), sekarang dikenal “Ethiopia”.

SANDAL RASULULLAH SAW

“Bagaimanakah sandal Rasulullah saw. itu?” Anas menjawab : “Kedua belahnya mempunyai tali qibal*(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Abu Daud at Thayalisi, dari Hamman yang bersumber dari Qatadah)

• Tali qibal adalah tali sandal yang bersatu pada bagian mukanya dan terjepit di antara dua jari kaki.
“Janganlah diantara kalian berjalan dengan sandal sebelah. Hendaklah memakai keduanya.” (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al Anshari, dari Ma’an, dari Malik, dari Abiz Zinad, dari al A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

“Sesungguhnya Nabi saw.melarang seorang laki-laki makan dengan tangan kiri dan berjalan dengan sandal sebelah.”(Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa,dari Ma’an,dari Malik,dari Abi Zubair,yang bersumber dari Jabir r.a.)

“Sesungguhnya Nabi saw. bersabda : “Bila salah seorang diantara kalian hendak memakai sandal hendaklah ia memulainya dari yang sebelah kanan. Dan bila ia melepasnya, maka hendaklah dimulai dari yang sebelah kiri. Hendaklah posisi kanan dijadikan yang pertama kali dipasangi sandaldan yang terakhir kali dilepas.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Malik, dan diriwayatkan pula oleh Ishaq bin Musa ,dari Ma’an, dari Malik, dari Abu Zinad, dari A’raj yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

CINCIN RASULULLAH SAW

“Cincin Rasulullah saw. terbuat dari perak sedangkan permatanya dari Abessina (Habsyi)”.(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id dan sebagainya, dari `Abdullah bin Wahab, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada penguasa bangsa `Ajam (asing), kepadanya diberitahukan: “Sungguh bangsa `Ajam tidak akan menerimanya, kecuali surat yang memakai cap. Maka Nabi saw. dibuatkan sebuah cincin (untuk cap surat). Terbayanglah dalam benakku putihnya cincin itu di tangan Rasulullah saw.” (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Mu’adz bin Hisyam, dari ayahnya, dari Qatadah,yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

• karena sebagaimana dikatakan bahwa cincin Nabi saw. dipakai sebagai pengecap surat,maka Nabi saw. tidak memakainya karena fungsinya pun lain. Atau mungkin saja pengertiannya bukan tidak dipakai, tapi jarang.

“Ukiran yang tertera di cincin Rasulullah saw adalah “Muhammad” satu baris ,”Rasul” satu baris, dan “Allah” satu baris”. (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin `abdullah al Anshari, dari ayahnya, dari Tsumamah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

“Sesungguhnya apabila Nabi saw. masuk ke jamban, maka ia melepaskan cincinnya.” (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Manshur, dari Sa’id bin `Amir, dan diriwayatkan pula oleh Hajjaj bin Minhal, dari Hamman, dari Ibnu Juraij, dari Zuhri yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

CARA RASULULLAH SAW BERCINCIN

“Sesungguhnya Nabi saw. memakai cincin di jari tangan kanannya.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sahl bin `Asakir al Baghdadi, dan diriwayatkan pula oleh `Abdullah bin Abdurrahman, keduanya menerima dari Yahya bin Hisan, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin `Abdullah bin Abi Namir, dari Ibrahim bin `Abdullah bin Hunain, dari bapaknya, yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pergaulan Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Rasulullah saw. memberi salam kepada sesiapa sahaja yang ditemui diperjalanan. Selalunya ia mendahului memberi salam. Apabila Baginda saw. mengirim utusan kepada seseorang ia mengiringinya dengan ucapan salam. Begitu juga apabila ia menerima perutusan, ia akan mengucapkan salam kepada kedua –dua pengirim dan utusan.

Apabila ia melintasi kumpulan kanak-kanak , ia mengangkat tangan sebagai tanda hormat. Begitu juga apabila ia melintasi kumpulan wanita.

Nabi saw. mengucapkan salam kepada setiap orang di dalam rumah ketika hendak meninggalkan mereka begitu juga ketika masuk. Baginda bersalam dengan sahabat-sahabat dan memeluk mereka bahkan kadang-kadang mencium dahi mereka. Apabila berjabat tangan ia tidak akan menarik tangannya sehingga orang lain melepaskannya terlebih dahulu.

Di dalam majlis, Rasulullah saw memilih tempat duduk di penjuru. Ia tidak akan melangkah orang lain untuk pergi ke hadapan.

Nabi saw. pernah bersabda, “Aku duduk seperti mana seorang hamba patut duduk”. Baginda saw. tidak membenarkan orang lain bangun untuk menghormatinya. Apabila seseorang datang menziarahinya, beliau menghamparkan sehelai kain untuk diduduki tetamu itu dan tidak meninggalkannya bersendiriian. Beliau melayani setiap tetamu yang datang dengan sopan walaupun orang itu berperangai buruk.

Pada sesetengah waktu Rasulullah saw. bersembang dengan sahabat-sahabat menceritakan kisah –kisah lama sebelum Islam dan Baginda saw. ikut ketawa apabila ada perkara-perkara lucu diceritakan. Apabila Rasulullah saw. mendapati wajah pendengarnya tidak berminat dengan tajuk perbicaraannya ia akan mengubah ke topic yang lain. Rasulullah saw. memberi perhatian kepada orang yang bercakap dengannya walaupun kadang-kadang tajuk perbualan itu tidak digemarinya. Kemudian ia memberi nasihat secara umum kepada orang itu.

Apabila Nabi saw. menziarahi seseorang , ia akan memberi salam dan meminta izin . Sekiranya waktu malam ia akan memberi salam secara yang dapat didengar oleh orang yang jaga dan tidak mengannggu orang yang tidur. Sekira beliau tidak menerima jawapan ia kembali tanpa merasa hampa.

Rasulullah saw sangat mengambil berat menziarahi orang sakit. Nabi saw. duduk disisinya , bertanya khabar tentang kesihatannya, melatakkan tangannya di atas dahi pesakit. Baginda saw. akan menenangkan pesakit dengan kata-kata “ InsyaAllah kamu akan sembuh segera. ” Kadang-kadang Rasulullah saw berdoa untuk pesakit yang diziarahinya. Nabi saw. juga menziarahi pesakit yang bukan Islam. Pernah Nabi saw. menziarahi seorang kanak-kanak Yahudi yang sakit. Kemudiannya budak Yahudi itu memeluk islam. Jikalau orang yang sakit itu hendak makan sesuatu, Rasulullah saw. akan mengirim makanan tersebut.

Terlalu banyak sifat terpuji Rasulullah saw. untuk digambarkan. Apa yang penting, pada diri Rasulullah saw itu ada contoh tauladan yang sangat baik untuk diikuti.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Gurauan Nabi Muhamad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Rasulullah SAW bergaul dengan semua orang. Baginda menerima hamba,orang buta,dan anak-anak.Baginda bergurau dengan anak kecil,bermain-main dengan mereka, bersenda gurau dengan orang tua.Akan tetapi Baginda tidak berkata kecuali yang benar saja.

Suatu hari seorang perempuan datang kepada beliau lalu berkata,

“Ya Rasulullah! Naikkan saya ke atas unta”, katanya.

“Aku akan naikkan engkau ke atas anak unta”, kata Rasulullah SAW.

“Ia tidak mampu”, kata perempuan itu.

“Tidak, aku akan naikkan engkau ke atas anak unta”.

“Ia tidak mampu”.

Para sahabat yang berada di situ berkata,

“bukankah unta itu juga anak unta?”

Datang seorang perempuan lain, dia memberitahu Rasulullah SAW,

“Ya Rasulullah, suamiku jatuh sakit.Dia memanggilmu”.

“Semoga suamimu yang dalam matanya putih”, kata Rasulullah SAW.

Perempuan itu kembali ke rumahnya. Dan dia pun membuka mata suaminya.Suaminya bertanya dengan keheranan, “kenapa kamu ini?”.

“Rasulullah memberitahu bahwa dalam matamu putih”, kata istrinya menerangkan. “Bukankah semua mata ada warna putih?” kata suaminya.

Seorang perempuan lain berkata kepada Rasulullah SAW,

“Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam syurga”. “Wahai ummi fulan, syurga tidak dimasuki oleh orang tua”.

Perempuan itu lalu menangis.

Rasulullah menjelaskan, “tidakkah kamu membaca firman Allah ini,
“Serta kami telah menciptakan istri-istri mereka dengan ciptaan istimewa, serta kami jadikan mereka senantiasa perawan (yang tidak pernah disentuh), yang tetap mencintai jodohnya, serta yang sebaya umurnya”.

Para sahabat Rasulullah SAW suka tertawa tapi iman di dalam hati mereka bagai gunung yang teguh. Na’im adalah seorang sahabat yang paling suka bergurau dan tertawa. Mendengar kata-kata dan melihat gelagatnya, Rasulullah turut tersenyum.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kesabaran Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Selama Nabi Muhammad (saw) menyebarkan ajaran agama Islam, beliau mengalami berbagai macam kesulitan. Para pendusta dan musyrikin dari kaumnya sendiri menghina Nabi Muhammad (saw) bahkan menyebutnya sebagai penyihir atau orang gila. Sedangkan kaum yang lain ingin membunuh beliau bahkan bersekongkol membuat rencana pembunuhan. Meskipun demikian Nabi Muhammad (saw) tetap tidak berhenti berupaya mengajarkan Al-Qur’an kepada semua masyarakat dari berbagai macam latar belakang dan budaya, beliau telah mengajarkan moralitas dan perilaku yang benar.

Sebagaimana Allah (SWT) nyatakan dalam Al Qur’an, beberapa orang tidak memiliki sikap dan perilaku yang baik, dan orang-orang seperti itu suka menyerang maupun menghina orang lain yang memiliki moral lebih baik. Nabi Muhammad (saw) menunjukkan sifat kesabaran dalam kondisi tersebut, memohon kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya dalam segala keadaan dan mendorong orang-orang yang beriman untuk sabar dan patuh terhadap perintah-Nya.

Sebagaimana tercantum dalam banyak ayat di Al-Qur’an, Allah (SWT) memerintahkan Nabi Muhammad (saw) untuk banyak bersabar dalam menanggapi perkataan dari orang – orang kafir :

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (Surah Qaaf: 39)

Janganlah kamu bersedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surah Yunus: 65)

Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (Surat al-Hijr: 97)

Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit karenanya dadamu, karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.(Surah Hud:12).

Orang – orang beriman harus meneladani hal – hal yang telah dicontohkan Rasullullah (saw) yaitu bersabar ketika menghadapi kesulitan. Mereka yang putus asa pada masalah yang kecil, tidak bisa menahan tanggung jawab yang kecil, mereka yang berhenti berdakwah atau mereka yang kehilangan harapan ketika salah dalam berbisnis, mereka harus sadar bahwa perilaku – perilaku tersebut bertentangan dengan kitab suci Al-Qur’an dan ucapan maupun perbuatan Nabi Muhammad (saw). Orang -orang beriman harus selalu bersabar dan cukuplah Allah (SWT) sebagai penolong dan senantiasa bersyukur kepada-Nya, sebagaimana nilai moralitas unggul yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad (SAW), yaitu memohon ampunan, dan berharap kasih sayang serta surga-Nya.

Ada banyak manusia dengan karakter-karakter berbeda di sekeliling Nabi Muhammad (saw). Sepanjang hidupnya, bagaimanapun juga, dia selalu menunjukkan perhatian yang besar kepada setiap orang, memperingati mereka atas kesalahan yang dilakukan, dan mencoba untuk mendidik mereka dalam segala hal, dari masalah kebersihan hingga tentang keimanan. Sikap penuh kasih, toleran, pengertian dan sabar merupakan karakter beliau sehingga banyak orang menaruh hati kepada Islam dan mencintai Nabi Muhammad (saw) dengan tulus. Allah (SWT) menggambarkan sikap menyenangkan Nabi Muhammad (saw) kepada orang sekelilingya tersebut dalam Al-Qur’an :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka (Surah Al ‘Imran: 159).

Dalam ayat yang lain, Allah berkata kepada Nabi Muhammad (SAW) bagaimana beliau seharusnya bersikap terhadap orang di sekitarnya :

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.(Surah Qaf: 45).

Nabi Muhammad (saw) tidak pernah memberikan tekanan maupun paksaan kepada orang -orang di sekelilingnya untuk menerima agama Islam.Sebaliknya beliau menggunakan cara – cara yang sopan dan baik kepada mereka dalam menjelaskan Islam.

Beliau selalu membina masyarakatnya dengan usahanya sekuat tenaga, dan setiap waktu dihabiskan hanya untuk mereka. Sifat Nabi Muhammad (saw) tersebut dijelaskan di beberapa ayat sebagai ” sahabat anda “.(Surah Saba’: 46: Surah an-Najm: 2, Surah at-Takwir: 22)

Orang – orang beriman yang merasakan ketulusan cinta Nabi Muhammad (saw) menggangap beliau jauh lebih dekat daripada kedekatan mereka dengan saudaranya yang lain, dan benar-benar merendahkan hatinya kepada beliau. Dalam satu ayat, Allah menyatakan :

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. (Surat al-Ahzab: 6).

Imam Ghazali, ulama besar Islam menyimpulkan perlakuan Nabi Muhammad (saw) kepada orang -orang di sekitarnya dalam sebagian informasi ditemukan dalam hadis :

“… Semua orang menganggap bahwa Nabi Muhammad (SAW) dihormati lebih dari siapapun. Siapa pun yang datang kepadanya bisa melihat wajahnya

…Beliau memanggil para sahabatnya dengan nama panggilan yang sopan dan beliau biasa memberikan nama panggilan jika sahabat tersebut belum mempunyai nama panggilan.

…Beliau sangat perhatian dan baik bila bertemu dengan orang lain.

…Tidak seorang pun dapat berbicara keras kepada beliau.. “[1]

Cinta Nabi Muhammad (saw) kepada sesama manusia, kehalusan budi pekerti dan kasih sayangnyalah yang akhirnya merubah orang-orang di sekelilingnya mau menerima agama Islam dan menenggelamkan hati mereka dalam keimanan, itulah contoh moralitas unggul yang seharusnya dipunyai oleh semua muslim.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Sifat zuhud Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Firman Allah bermaksud, ” Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat keterangan Kami, mereka akan dikenakan azab seksa dengan sebab mereka berlaku fasik.” (Surah al-An’am :49)

Ertinya, mereka yang mendustakan (mengkufuri) al-Quran (ayat-ayat keterangan yang dapat dibaca) yang disampaikan oleh Nabi s.a.w dan ayat-ayat keterangan yang dapat dilihat (alam yang menjadi hujah mengenai keagungan dan kekuasaan Allah) dengan mata mereka sendiri, mereka akan dikenakan azab seksa yang pedih daripada sebab kejahatan dan kekufuran yang mereka lakukan terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya s.a.w.

Seterusnya Allah berfirman yang bermaksud, “Katakanlah (wahai Muhammad s.a.w): “Aku tidak mengatakan kepada kamu (bahawa) perbendaharaan Allah ada di sisiku.” (Surah al-An’am : 50)

Yakni Allah SWT memerintahkan supaya Nabi s.a.w berkata kepada mereka yang kufur itu bahawa baginda s.a.w tidak mengatakan yang harta perbendaharaan milik Allah berada di sisinya.

Bahkan Nabi s.a.w tidak pernah memiliki harta kekayaan walaupun baginda s.a.w berupaya untuk mendapatkannya.

Ini kerana baginda s.a.w pernah ditawarkan oleh golongan kafir Quraisy harta kekayaan dan pangkat kedudukan jika baginda s.a.w meninggalkan kerja-kerja dahkwah mengajak manusia kepada Islam.

Nabi s.a.w boleh memohon pertolongan Allah untuk mendapatkan harta kekayaan atau perbendaharaan Allah jika dia mahu. Tetapi baginda tidak berbuat demikian Inilah sifat zuhud dan tawaduk baginda s.a.w

Sejarah membuktikan baginda adalah seorang Nabi yang tidak mempunyai harta kekayaan, tidak seperti Nabi Sulaiman a.s. bahkan semasa wafat baginda s.a.w masih berhutang dengan Yahudi di Madinah.

Allah berfirman yang bermaksud, “Dan aku pula tidak mengetahui perkara yang ghaib.” (Surah al-An’am:50)

Allah juga memerintahkan Nabi s.a.w supaya memberitahu orang-orang kafir itu bahawa perkara ghaib itu adalah di dalam ilmu Allah SWT. Nabi Muhammad s.a.w tidak akan dapat mengetahuinya melainkan Allah yang memberitahunya. Nabi s.a.w tidak berkuasa untuk mengetahui semuanya itu melainkan Allah yang memberitahu kepadanya.

Banyak peristiwa dalam sejarah menjelaskan bagaimana Allah SWT menampakkan perkara-perkara ghaib kepada Nabi s.a.w di mana Nabi s.a.w melihat malaikat dan Jibrail dalam pelbagai rupaya seperti seorang lelaki yang lawa dan berpakaian serban putih dan dalam bentuk rupanya yang asal datang menemui Rasulullah s.a.w dalam banyak peristiwa sepanjang hayatnya sehingga baginda s.a.w wafat.

Allah berfirman lagi, “Aku juga tidak mengatakan kepada kamu bahawasanya aku ini malaikat.” (Surah al-An’am : 50)

Allah turut memerintahkan nabi s.a.w berkata kepada golongan kuffar itu bahawa beliau tidak pernah mengatakan dan mengakui bahawa baginda adalah seorang malaikat. Baginda adalah seorang manusia yang dipilih oleh Allah menjadi rasul. Baginda masih bersifat seperti manusia biasa yang lain, perlu makan dan minum, perlu berkawin dan sebagainya.

Orang-orang kafir itu menghina Nabi s.a.w kerana perkara ini sebagaimana firman Allah yang bermaksud, “Mengapa rasul ini makan minum dan berjalan di pasar-pasar seperti manusia lain)?” (Surah al-Furqan:7)

Cuma bezanya dengan manusia yang lain ialah baginda s.a.w diutuskan sebagai rasul untuk menyampaikan dan memberi contoh teladan yang baik kepada manusia bagaimana seharusnya mereka melaksanakan segala suruhan Allah daripada sekecik-kecil perkara sehingga ke sebesar perkara daripada membuang duri dan batu di tengah jalan sehingga mendirikan kerajaan Islam dan menegakkkan hukum Allah SWT di atas muka bumi dan berjihad, berperang bagi menegakkan agama Allah SWT.

Allah berfirman yang bermaksud, “Aku tidak menurut melainkan apa yang diwahyukan kepadaku.” (Surah al-An’am : 50)

Allah SWT memerintahkan Nabi s.a.w berkata kepada golongan yang tidak beriman itu bahawa baginda s.a.w tidaklah melakukan sesuatu perkara melainkan menurut segala perintah wahyu daripada Allah yang disampaikan kepadanya melainkan Jibrail a.s

Ini dikuatkan lagi dengan firman Allah yang bermaksud,” Dan ia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemahuan dan pendapatnya sendiri. Segala yang diperkatakan itu (sama ada al-Quran atau hadis) tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (Surah an-Najmu:3-4)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Keberanian Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Nabi Muhammmad saw adalah manusia paling berani. Ini terbukti saat baginda saw berdiri sendirian menghadapi kekuatan kufur, mengajak kepada tauhid dan ikhlas dalam ibadah. Maka orang kafir menentangnya, memeranginya dari satu panahan, menyakitinya, berkonspirasi untuk membunuhnya, namun semua itu tidak membuatnya gentar dan tidak mengendurkan semangatnya. Sebaliknya menambah semangatnya dalam berdakwah dan berpegang teguh dengan kebenaran yang dipegangnya. Baginda saw bersabda dengan tegas, memberikan tentangan kepada orang-orang zalim di muka bumi:

وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ, حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ دُونَهُ”.

“Demi Allah, jikalau mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini nescaya aku tidak akan meninggalkannya sehingga Allah I memenangkannya atau aku binasa kerananya.”

Dari Anas bin Malik t, dia berkata: ” Rasulullah r adalah manusia terbaik, manusia paling pemurah, manusia paling berani. Pada suatu malam, orang ramai merasa terkejut kerana mendengar satu suara tinggi. Maka orang-orang menuju ke arah tempat datangnya suara itu. Namun Rasulullah r ditemui menuju pulang dan dia r telah mendahului mereka ke arah tempat datangnya suara. Baginda r berada di atas kuda Abu Thalhah dan di lehernya ada pedang, dan baginda r bersabda: ” Jangan takut, jangan takut.”

An-Nawawi rahimahullah berkata: ” Dalam hadith ini ada beberapa faedah: di antaranya, keberanian Nabi r kerana segeranya keluar menuju musuh dan mendahului semua orang, di mana baginda mencari berita dan kembali sebelum sampainya manusia lain.

Dari Jabir t, ia berkata, ” Di perang Khandaq (parit) sedang kami menggali parit, tiba-tiba ada batu besar yang sangat keras. Mereka datang kepada Nabi r sambil berkata, ” Ini ada batu besar yang menghalangi di parit.” Nabi r bersabda: ” Aku turun.” Kemudian baginda berdiri, sedangkan perutnya diikat dengan batu, dan kami sudah tiga hari tidak merasakan makanan. Maka Rasulullah r mengambil cangkul, memukul batu besar, tiba-tiba batu itu hancur berkeping-keping. (HR. al-Bukhari).

Maksudnya, batu besar yang para sahabat tidak mampu memecahkannya ini, berubah menjadi kerikil kecil yang berhamburan kerana kerasnya pukulan Nabi r. Ini bukti menunjukkan kekuatan Nabi r.

Sesungguhnya Nabi r memiliki keberanian, keteguhan, ketegaran menghadapi huru hara walau seberat mana pun. Baginda di tempat tertinggi dalam hal ini yang tidak ada seorangpun yang menyerupainya.

Kerana inilah, Nabi r terlibat langsung dalam beberapa peperangan di setiap kehidupan jihadnya. Tidak pernah sekali pun baginda r ingin mundur dari tempat itu barang sejengkal pun. Posisi yang membuat baginda r selalu menjadi pusat perhatian di antara para sahabatnya. Inilah yang menjadikan baginda saw pemimpin yang ditaati, yang kecil dan besar segera mengikuti isyaratnya. Bukan kerana baginda seorang utusan Allah r sahaja, bahkan tatkala mereka melihat keberanian baginda r dibandingkan diri mereka, tidak ada apa-apanya. Padahal di antara mereka ada para pahlawan yang keberanian mereka dijadikan perumpamaan dalam hal keberanian dan ketangkasan.

Dalam hal ini, Ali bin Abu Thalib t berkata: ” kami dahulunya ( di zaman Nabi saw ) , apabila peperangan telah menjadi sengit, dua kumpulan tentera bertembung, kami berlindung dengan Rasulullah r, maka tidak ada seorang pun dari kami yang lebih dekat kepada musuh dari pada baginda.’ HR. Ahmad dan an-Nasa`i.

Ali t juga berkata: ” Sungguh kami melihat diri kami di perang Badar sedang kami berlindung dengan Nabi r, baginda r adalah yang paling dekat kepada musuh di antara kami. Baginda r adalah manusia paling kuat.’ HR. Ahmad.

Dalam perang Uhud, Ubai bin Khalaf maju meluru di atas kudanya ingin membunuh Rasulullah r dan berkata: ” Wahai Muhammad, aku tidak selamat jika engkau selamat.” Orang ramai berkata : ” Ya Rasulullah, bolehlah salah seorang dari kami menyerang dia? ” Rasulullah r bersabda: ” Biarkanlah dia.” Maka tatkala dia sudah dekat, Rasulullah r mengambil pedang dari al-Harits bin ash-Shammah. Baginda menghayungnya ketika para sahabat sudah pecah bertempiaran. Kemudian Rasulullah r menghadapinya, lalu menusuknya di lehernya satu tusukan yang membuatkannya terpelanting jatuh dari kudanya. Lalu dia kembali kepada kaum Quraisy seraya berkata: ” Muhammad telah membunuhku.” Mereka berkata. ” Tidak apa-apa.” Dia berkata: ” Jikalau dia berhadapan dengan semua manusia, nescaya dia mampu membunuh mereka. Bukankah dia telah berkata: “Aku akan membunuhmu, demi Allah”. Jikalau dia meludahiku nescaya dia akan membunuhku.” Akhirnya dia meninggal di perjalanan pulangnya.'[1]

Dalam perang Hunain, kaum muslimin bertempiaran lari ketika diserang hendap oleh kaum Hawazin dengan panah sedang Nabi r tetap teguh menghadapi musuh sambil bersabda:

أَنَـا النَّبِيُّ لَا كَـذِبْ أَنَــا ابْـنُ عَبْـدِ المطَّلِبْ

Aku adalah nabi yang tidak bohong. Aku adalah keturunan Abdul Muthalib [2]

Ya Allah, berilah rahmat dan kesejahteraan kepada nabi kami, kekasih kami Muhammad r, kumpulkanlah kami dengannya di negeri kemuliaan, berilah kami minuman dari tangannya yang mulia, minuman yang enak, tidak pernah haus lagi untuk selamanya.

[1] Sirah Nabawi, Ibnu Hisyam 3/174.

[2] Akhlak Nabi r dalam al-Qur`an dan as-Sunnah (3/1341)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Nabi Muhammad saw takut terhadap dunia yang melimpah

Posted by Sifuli di 11 Julai 2010

Asy-Syaikhany mengeluarkan dari Abu Sa’id Al-Khudry di dalam sebuah hadits, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar dan kami pun duduk di sekitar beliau, lalu beliau bersabda,
“Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah jika Allah membukakan kesenangan dan perhiasan dunia kepada kalian.”

Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib Wat-Tarhib, 5/144.

Asy-Syaikany juga mengeluarkan sebuah hadits dari Amr bin Auf Al-Anshay Radhiyallahu Anhu, yang di dalamnya dia berkata, “Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“TerimaIah kabar gembira dan satu harapan bagi kalian Demi Allah, bukan kemiskinn yang aku takutkan terhadap kalian, tetapi aku justru takut jika dunia dihamparkan kepada kalian, sebagaimana yang pernah dihamparkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu mereka saling berlomba untuk mendapatkannya, sehingga kalian menjadi binasa seperti yang mereka alami.”

Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib Wat-Tarhib, 5/141

Ya’qub bin Sufyan mengeluarkan dari IbnuAbbas Radhiyallahu Anhuma, bahwa Allah mengutus seorang malaikat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang disertai Jibril Alaihi Salam. Malaikat itu berkata,
“Sesungguhnya Allah menyuruh engkau untuk memilih, apakah engkau menjadi hamba dan nabi, ataukah menjadi raja dan sekaligus nabi.”

Beliau menoleh ke arah Jibril layaknya orang yang meminta saran. Maka Jibril memberi isyarat, agar beliau merunduk dan patuh. Maka beliau menjawab,
“Aku pilih menjadi hamba dan nabi.”

Setelah kejadian ini beliau tidak pemah makan sambil telentang, hingga beliau wafat. Yang serupa dengan ini juga diriwayatkan Al-Bukhary dan An-Nasa’y. Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Bidayah, 6:48.

Ahmad mengeluarkan dengan isnad yang shahih, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab ra. bercerita kepadaku, “Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata.

“Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?” tanya beliau. “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buab-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu.”
“Wahai Ibnul-Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia?”

Al-Hakimjuga mentakhrijnya secara shahih, berdasarkan syarat Muslim. Ibnu Hibban meriwayatkannya dari Anas, dan dia menyebutkan yang seperti ini. Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib, 5/161

Sumber: http://azharjaafar.blogspot.com/

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »