Kehidupan Nabi Muhammad saw

Warisan Budaya Alamiah

  • Kehidupan Nabi Muhammad saw


    Contohilah baginda

  • Jumlah Pengunjung

    • 412,347 hits
  • Log Keluar / Masuk

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Israk Mikraj membina rohani dan jasmani

Posted by Sifuli di 9 Julai 2010



Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim, penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam, Kamis (8/9) lalu.

ABD. MOQSITH GHAZALI (JIL): Mas Chodjim, bisa digambarkan suasana psikologis Nabi Muhammad sebelum isra mikraj?

ACHMAD CHODJIM: Kalau kembali ke Sirah Nabi, sebelum isra mikraj itu telah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menegangkan atau memberatkan secara psikologis bagi kehidupan Nabi. Sebelum tahun ke-10 kenabian, Nabi baru saja terbebas dari boikot orang-orang kafir Quraisy. Dari pelbagai peristiwa itu, Nabi terinspirasi untuk mencari lahan baru guna mengembangkan nilai-nilai Islam.

JIL: Seperti apa boikot masa itu?

Boikot ekonomi. Dalam bahasa sekarang: embargo ekonomi. Memang, sejak dulu sektor ekonomi merupakan sarana yang penting bagi keberlangsungan suatu umat. Nah dari situ kita tahu, pada masa itu Nabi telah coba mendatangi orang-orang Thaif, tapi sambutan mereka tidak menguntungkan. Di tengah berbagai tekanan itulah Allah membuka jalan bagi Nabi supaya perjuangannya berhasil. Karena itu di dalam Alqur’an dikatakan, “Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari masjidil haram menuju masjidil aqsha yang telah telah diberkati sekelilingnya.” Itulah ayat yang berkenaan dengan isra.

Sementara soal mikraj tercantum di dalam surah an-Najm. Dari ayat 13 sudah dijelaskan bahwa Nabi semakin dekat dan bertambah dekat dengan Tuhan, bahkan jarak kedekatannya ibarat dua busur panah atau kurang. Ketika Nabi begitu dekat, maka Allah sendiri yang mengajarinya cara hidup. Hanya saja, tafsiran yang ada selama ini secara umum menegaskan bahwa yang datang untuk mengajarkan Nabi itu adalah malaikat Jibril. Kalimat `allamahu syadîdul quwâ di situ diidentifikasi sebagai Jibril. Padahal artinya lebih umum, yaitu “Ia dituntun oleh Yang Mahakuat”. Kata “Yang Mahakuat” itu bisa bermakna Allah sendiri.

Jadi yang mengajari Nabi Muhammad di situ adalah sosok Yang Makakuat atau Allah. Dan keterangan itu selaras dengan ayat lain di surah ar-Rahman, yang menerangkan bahwa sosok yang mengajarkan Alqur’an itu adalah Allah sendiri. Dengan tafsir begini, yang disebut mikraj dapat diartikan sebagai “posisi yang dicapai seorang hamba dalam proses mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sehingga tersingkap baginya semua rahasia kehidupan”.

JIL: Apakah tekanan-tekanan psikologis dalam hidup itu sendiri yang membuat spiritualitas atau kedekatan Nabi dengan Tuhan begitu tak berjarak?

Tidak harus begitu. Karena begitu seseorang berada dalam himpitan hidup, dia akan menghadapi dua kemungkinan. Pertama, orang itu akan bangkit, dan kedua ia malah akan berputus asa. Nah, pada kasus Nabi yang sedari awal sudah punya visi, telah menyiapkan diri, serta sudah pula mengamalkan iqra’ (merenungkan hidup, Red)ketika menerima wahyu pertama kali, himpitan hidup justru mendorongnya untuk semakin taqarrub atau mendekatkan diri pada Allah. Kasus ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki misi dan visi dalam hidup. Jadi hidup memang harus dituntun oleh sebuah misi.

Jadi dalam konteks ini, isra mikraj bukan sekadar rekreasi. Selama ini, kata isrâ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isrâ’ itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Kata sâriyah yang satu dasar kata dengan isrâ’ berarti pencarian. Jadi isrâ’ di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.

JIL: Tapi mengapa proses pencarian itu harus melewati Yerussalem? Apa artinya?

Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah dalam Alquran yang menerangkan bahwa masjidil haram yang dimaksud adalah yang ada di Mekah, dan masjidil aqsha di situ adalah yang berada di Yerussalem. Kata masjid ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud secara fisik. Jadi pengertian masjidil haram di situ sebenarnya lebih bisa dipahami secara makrifat, bukan harfiah. Yang sudah ada dalam fakta sejarah waktu itu adalah Kakbah, bukan masjidil haram. Dan secara urutan sejarah, masjid yang pertama dibangun Nabi adalah Masjid Quba’ setelah beliau hijrah ke Madinah.

JIL: Jadi apa makna masjidil haram dan masjidil aqsha di situ?

Karena masjidil haram dan masjidil aqsha secara fisikal belum ada, kita perlu selidiki lebih lanjut apa yang dimaksud dengan keberangkatan nabi dari masjidil haram ke masjidil aqsha di dalam ayat itu. Konon, sebelum itu Nabi pernah didatangi Jibril, lalu dadanya dibelah dan hatinya dibersihkan. Artinya, sebuah perjalanan untuk keluar dari kegelapan haruslah lebih dahulu terbebas dari segala macam perilaku haram lewat pensucian diri. Makanya di redaksi ayat itu disebut masjidil haram.

Lalu kenapa dibawa ke masjidil aqsha? Supaya beliau dapat memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya. Makna masjidil aqsha di situ secara umum bermakna masjid yang amat jauh. Kita tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Makanya ada istilah kullu ardlin masjidun, atau setiap jengkal tanah dapat dijadikan tempat bersujud.

Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud pada Tuhan. Namun supaya orang bisa bersujud sedalam-dalamnya—sebagai makna simbolik masjidil aqsha—seseorang harus berangkat dari masjidil haram, atau proses pensucian diri, perilaku, dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan, sentimen dan kedengkian, kita tidak akan bisa isrâ’.

Nah, selama ini isra’ mikraj itu hanya kita kenang sebagai kisah yang hanya dialami secara pribadi oleh Nabi Muhammad. Padahal, sebagaimana dikatakan Alquran: “Laqad kâna lakum fî rasûlilLâh uswatun hasanah.” Jadi, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah teladan mulia. Jadi makna isrâ’ mikraj itu bagian dari teladan, bukan hanya kisah.

JIL: Apa yang bisa diteladani dari kisah itu, Mas Chodjim?

Pertama-tama, kita harus bisa isra. Artinya, kita harus bisa ber-takhallî, atau menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam diri kita. Tahapan ini dilambangkan lewat proses dibersihkannya hati Nabi. Lalu dari situ kita berangkat menuju tempat persujudan yang lebih jauh, karena di situ kita akan naik. Sebab istilah mi`râj berasal dari kata `araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan spiritualitas.

JIL: Berarti Anda tidak terlalu tertarik dengan polemik apakah isra mikraj itu terjadi dengan jasad atau jiwa saja, atau dengan keduanya (jasadan wa rûhan)?

Bagi saya tidak terlalu penting apakah isra mikraj itu berkaitan dengan jasad, dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang penting bagi saya adalah makna apa yang bisa kita terapkan di dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Misalnya dalam kisah itu digambarkan bahwa setelah mikraj, Nabi sempat bertatap muka dengan Tuhan di sidratul muntahâ, tempat di mana Jibril sendiri tidak bisa menempuhnya. Dari situ saya menangkap bahwa hakikat spiritualitas kemanusiaan itu melampaui spiritualitas malaikat yang selama kita anggap paling tinggi sekalipun.

Jadi dari spiritualitas itu, kita bisa sampai dan menjejekkan kaki di alam yang sudah tidak terlampaui lagi oleh makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dari situ kita bisa bertatap muka dan berdialog langsung dengan Yang Mahamutlak. Makanya, di dalam Alquran surah an-Nûr dikatakan bahwa Allah itu al-Haqqul Mubîn. Jadi, Tuhan itu sebenarnya kebenaran (al-Haq) yang nyata atau al-mubîn. Jadi Dia tidak sekadar ghaib. Tuhan itu Kebenaran yang Nyata; bukan semata-mata dalam keyakinan Ia ada, tapi juga dalam bentuk Eksistensi yang bisa kita tatap, kita pandang.

JIL: Anda menyebut Tuhan sebagai Kebenaran yang Nyata. Namun, tentu tak gampang mengenali Kebenaran yang Nyata itu. Bagaimana proses utuk sampai pada Kebenaran itu kalau berteladan dari kisah isra mikraj?

Kalau kita berteladan dari perjalanan Nabi untuk meraih kebenaran, pertama-tama kita harus prihatin terhadap segenap keburukan, keresahan, dan kerusuhan yang ada dalam masyarakat. Kita harus prihatin, bukan bangga. Kalau di masyarakat banyak kemiskinan, kriminalitas, dan lain sebagainya, kita harus prihatin. Berangkat dari kondisi itulah kita bisa membersihkan diri. Makanya, jauh sebelum isra mikraj, Nabi sudah membiasakan diri ber-tahannuts atau merenung di Gua Hira’. Perenungan itu bertujuan untuk melakukan peninjauan ulang atas kenyataan hidup.

Jadi, pertama-tama kita harus melakukan cek dan ricek atas kenyataan hidup. Dari situlah keprihatinan timbul, upaya untuk menyantuni orang-orang lemah bersemi. Ayat-ayat Alquran yang awal-awal banyak sekali yang berbicara soal itu. Jadi kita disuruh memperhatikan orang-orang lemah, anak yatim yang kurang mendapat kasih sayang, dan sebagainya. Setelah mampu memperjuangkan itu, itulah pertanda bahwa hati kita akan semakin mantap menatap kebenaran. Kalau hanya prihatin, belum mengamalkan apa yang perlu, kita belum merealisasikan kebenaran.

JIL: Mas Codjim, apa komentar Anda tentang kisah populer soal perundingan alot Nabi menyangkut jumlah salat?

Sebenarnya kita tidak boleh telalu terpancing soal detail dialog itu. Kita seharusnya melihat fungsi salatnya saja. Mungkin yang perlu ditanya: mengapa perundingan itu begitu alotnya? Kita tahu, tujuan pokok salat sebagaimana disebutkan Alquran adalah untuk mencegah kehidupan yang penuh kekejian dan kemungkaran. Untuk mencapai tujuan itu, perlu upaya tersendiri. Dengan semata-mata menjalankan salat, orang tidak otomatis terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tujuan lain salat kalau merujuk Alquran adalah untuk berzikir kepada Allah; wa aqîmus shalât lidzikrî. Tapi zikir di situ tidak boleh juga dimaknai sekadar mengingat. Kalau hanya mengingat kata-kata (lafaz Allah) saja, anak kecil pun bisa melakukannya. Jadi kata “mengingat” di sini bisa bermakna “mengingat kebenaran yang sudah dirasakan, ditatap, atau yang telah dihayati”.

JIL: Artinya, salat itu medium umat Islam untuk mikraj, atau meningkatkan spiritualitas?

Betul. Makanya ada hadis yang berbunyi ”as-shalâtu mi`râjul mu’minîn” (salat itu adalah mikrajnya kaum beriman, Red). Jadi, selain ada mikraj besar atau akbar, ada juga mikraj kecil atau ashghar, yaitu salat kita sehari-hari. Jadi, kita tidak hanya diminta menjalankan salat, tapi juga menegakkannya. Di dalam Alquran soal itu sudah disebutkan panjang lebar. Konsekuensi “menegakkan salat” itu termasuk menyantuni fakir miskin, anak yatim, menjaga kemaluan, dan lain sebagainya. Dalam bahasa ringkasnya, semua itu disebut tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar, mencegah yang keji lagi munkar.

Jadi isi menghindar dari yang keji dan mungkar itubanyak sekali. Kesalahan kita selama ini, salat hanya dimaknai mengerjakan salat itu sendiri lengkap dengan rukun-rukunnya. Kalau hanya mengerjakan, jangan heran kalau Allah juga pernah menyebut orang-orang yang salat bisa celaka. Fa wailun lil mushallîn atau celakalah orang-orang yang mengerjakan salat, kata Allah. Kalau sekadar mengerjakan salat, pasti tidak ada aspek jelas yang dituju. Makanya dalam hadis dikatakan: “Orang yang rajin salat tetapi tidak mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, akan menjauhkan dirinya dari Tuhan.”

JIL: Mas Chodjim, setelah Nabi menerima perintah salat sebagai upaya mencapai ketinggian spiritualitas, ia kembali turun ke bumi. Apa maknanya?

Itu artinya, ketika kita sudah sampai di sidratul muntahâ, kita sudah sampai pada posisi yang sangat enak. Posisi itu tidak akan dicapai segenap makhluk lain kecuali manusia. Namun, sidratul muntahâ itu bukan tempat di mana manusia bisa menjalankan misi hidup. Makanya ada proses nuzûl atau turun ke bumi dalam kisah Nabi. Setelah datang lagi ke bumi, Nabi langsung melaksanakan tindak sosial, mengupayakan perdamaian, kemudian merancang proses hijrah (transformasi sosial, Red).

Jadi, hijrah itu adalah buah dari mikraj. Kalau seseorang tidak pernah mikraj, maka tidak akan ada tahapan hijrah. Jadi kedua hal itu berurutan. Dan setelah peristiwa mikraj, Nabi terus diminta hijrah. Setelah hijrah, ia diminta berjihad. Jadi isra, mikraj, hijrah, dan jihad itu bergandengan. Selama ini kita salah memaknai hijrah, salah pula memaknai jihad.

JIL: Anda menyebut rangkai peristiwa yang beruntun; tahun-tahun kesedihan, isra mikraj, hijrah dari satu keadaan ke keadaan lain, lalu jihad. Tampaknya, fase-fase itu berlangsung lewat tuntunan spiritual dari Tuhan langsung. Apa memang seperti itu proses pembangunan masyarakat?

Ya. Suatu masyarakat tidak akan bisa melakukan suatu perjalanan tanpa rambu atau marka jalan yang hendak dituju. Kalau semua itu tidak dibeberkan lebih dahulu, tidak akan terjadi kemajuan transformasi sosial. Jadi itu merupakan suatu struktur yang telah berurut. Kalau kita mau jadi seorang profesor, kita harus betul-betul sekolah, berupaya mencapai tahapan-tahapannya. Kalau ingin kaya, modal finansial saja tidak akan memadai, tapi juga perlu kerja keras, keahlian, dan punya strategi. Nah, semua itu sebenarnya baru bisa dibeber setelah manusia itu pernah mikraj. Sebab setelah mikraj, seseorang akan mengalami ketenangan batin yang luar biasa. Di saat batin telah tenang itulah kita baru bisa melihat persoalan dengan jernih.

JIL: Tapi kenyataannya, ada saja orang sukses tanpa menapaki proses-proses spiritual. Bagaimana menjelaskan perkecualian itu?

Itu sangat terkait dengan persepsi kita tentang sukses. Apa sih yang disebut sukses? Kita tidak bisa menilai sukses hanya ketika seseorang telah mendapat segebok materi. Kalau itu yang jadi ukuran, tidak akan ada orang kaya yang ingin bunuh diri. Kenyataannya, banyak orang kaya yang malah putus asa. Kita tahu bagaimana kondisi Elvis Presley ketika dia berada di puncak ketenarannya. Dia malah putus asa dan banyak minum obat tidur. Jadi kalau hanya melihat ukuran materi, kita tidak bisa menyebutnya sukses. Sebab, orang sukses tentu tak perlu putus asa. Jadi, spiritualitas bukan hanya selalu perlu, tapimerupakan bagian pokok dari kehidupan.

JIL: Jadi ringkasnya apa makna isra’ mikraj untuk kita saat ini?

Di dalam kisah isra mikraj ada satu pesan yang maha tinggi nilainya, yaitu perjumpaan para nabi lain dengan Nabi Muhammad. Konon Nabi Muhammad menjadi imam salat mereka. Apa arti kisah simbolik itu? Sebagai umat Nabi terakhir yang sudah mempelajari persoalan umat nabi-nabi sebelumnya, kita tentu akan menghadapi persoalan sebanyak yang pernah dihadapi nabi-nabi sebelumnya. Karena itu kita diperintahkan untuk beriman bukan hanya pada seorang Rasul (Nabi Muhamad saja), tapi ‘âmantu bilLâhi wa malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi (beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, Red). Dengan mengimani semua rasul, kita bisa mengambil hikmah. Salah satu pesan penting isra’ mikraj juga adalah agar kita bisa mengambil hikmah dari ajaran berbagai rasul sebelum Nabi Muhammad. Dengan begitu, kita bisa bertindak lebih arif.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Israk Mikraj Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 6 Julai 2010



Peristiwa Israk Mikraj Nabi Muhammad S.A.W. – 27 Rejab

1. Sebelum Israk dan Mikraj

Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika’il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “khatimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu.

2. Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):

Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang sebanyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:

i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah; iii. Baitul-Laham (tempat Nabi ‘Isa A. S. dilahirkan);

Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :

– Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.

– Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).

– Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).

– Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.

– Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri / suami.

– Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba`.

– Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.

– Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.

– Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.

– Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian menyesal, tapi sudah terlambat.

– Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.

– Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.

– Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.

Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.

Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.

3. Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):

Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).

1. Langit Pertama: Rasulullah S. A. W. dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A. S. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.

11. Langit Kedua: Nabi S. A. W. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi ‘Isa A. S. dan Nabi Yahya A. S.

111. Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A. S.

1v. Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A. S.

v. Langit Kelima: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A. S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.

v1. Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A. S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.

v11. Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda, “Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu lah HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH”. Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda, “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-’AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga”. Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

11x. Tangga Kelapan: Di sinilah disebut “al-Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S. A. W. dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.

1x. Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.

x. Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S. W. T. dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:

Allah S. W. T : Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S. W. T : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi. Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan. Allah S. W. T : aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah ‘Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.

4. Selesai munajat, Rasulullah S. A. W. di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A. S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S. A. W. merayu kepada Allah S. W. T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.

5. Selepas Mikraj

Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu’alam.

(Sumber : Kitab Jam’ul-Fawaa`id) Kesimpulannya, peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya.

Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.

Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.

Mafhum Firman Allah S. W. T. : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah Al-Israa’: Ayat 1). wallahua’lam..

SUMBER:

http://fullfilth.blogspot.com

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Kisah cinta diantara Siti Khadijah ra dengan Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 1 Julai 2010



Kisah Cinta Khadijah r.a dan Rasulullah SAW

Siapakah khadijah?

Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.

Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Lamaran dari khadijah kepada Rasulullah s.a.w

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata

Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)

Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.
Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”

(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)
Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).

Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat
Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.

khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.

Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.

Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.

‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”

Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:

Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.

Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.

‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”

Khadijah yang cantik

Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:

Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”

Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”

Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.

Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”

Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerimapemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.

Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu.

Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.

Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.

Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.

Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa: 8)

Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.

Dijamin Masuk Syurga

Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”

Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy. Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.

Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.

Wanita Terbaik

Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.

Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.

Perjuangan Khadijah

Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,” Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.

Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam “Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:”Keshahihannya telah disepakati.”]

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ? Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.

Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam “Musnad”-nya, 6/118]

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]

rujukan:Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW karangan Muhammad Ibrahim Saliim

Posted in Uncategorized | 8 Comments »

Nabi Muhammad saw ketika usia kanak kanak dan remaja

Posted by Sifuli di 30 Jun 2010

Dr Mustaffa Siba’ie menyebut beberapa kisah kehidupan Nabi saw ketika kanak-kanak dan remaja. Kisah yang menunjukkan ketinggian akhlak seorang yang bakal membawa risalah Islam akhir zaman. Kisah Nabi saw yang mesti menmjadi teladan kepada kita sebagai pendakwah di zaman ini.

1. Keturunan Yang Mulia – Nabi saw berketurunan dari Bani Hasyim. Bani Hasyim merupakan keturunan Quraisy yang paling mulia. Manakala Quraisy pula adalah kabilah ‘Arab yang paling mulia dan berketurunan bersih. Mereka juga memiliki kedudukan yang paling tinggi di kalangan bangsa Arab.

Diriwayatkan daripada al-Abbas r.a.,
daripada Rasulullah s.a.w., Baginda bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencipta makhluk ini, lalu Dia menciptakan aku daripada sebaik-baik makhluk dan daripada sebaik-baik kelompok mereka (manusia). Dia juga menjadikan aku daripada sebaik-baik kumpulan di antara dua kumpulan (Arab dan bukan Arab). Kemudian Dia meneliti pemilihan kabilah-kabilah secara rapi, maka Dia menciptakan aku daripada sebaik-baik kabilah (Quraisy). Kemudian Dia meneliti pemilihan keluargakeluarga secara rapi, maka Dia menciptakan aku daripada sebaik-baik keluarga (Bani Hasyim). Sementara aku adalah sebaik-baik jiwa (sehingga dipilih menjadi rasul dan penutup segala nabi) dan sebaik-baik keluarga di kalangan mereka. (asal-usul keturunan ibu bapa dan nenek moyang Baginda tiada yang lahir daripada perzinaan, bahkan melalui pernikahan yang sah)”.
(Riwayat at-Tirmizi dengan sanad yang sahih).

Oleh kerana keturunan Baginda s.a.w. adalah mulia di kalangan Quraisy, kita tidak temui
isu keturunan menjadi bahan celaan mereka terhadap Nabi s.a.w.. Ini disebabkan kemuliaan
keturunan Baginda cukup jelas kepada mereka. Quraisy telah mencela Baginda dengan banyak isu yang direka-reka tetapi bukan dalam isu keturunan.
(PENGAJARAN – Sekiranya pendakwah kepada Allah atau pengislah berada di kedudukan yang mulia di kalangan masyarakat, orang ramai akan lebih tertarik untuk mendengar seruannya. Menjadi kebiasaan, masyarakat akan memperlekehkan para pengislah dan pendakwah sekiranya mereka berasal daripada latar belakang yang tidak dikenali atau keturunan yang hina.)

2. Baginda membesar sebagai anak yatim. Bapa Baginda, Abdullah telah meninggal dunia ketika ibu Baginda baru mengandungkan Baginda dua bulan. Apabila Baginda berusia 6 tahun, ibu Baginda, Aminah pula meninggal dunia. Oleh itu, semasa kecil Baginda s.a.w. telah merasai pahit maung tidak mendapat belaian kasih sayang ibu bapa. Selepas itu, Baginda telah dipelihara oleh datuk Baginda, Abdul Muttolib. Ketika berumur 8 tahun, datuk Baginda pula meninggal dunia. Dengan itu Baginda selanjutnya dipelihara oleh bapa saudara Baginda, Abu Tolib sehingga Baginda besar dan dewasa. Keyatiman Baginda ini telah disebut oleh al-Quran al-Karim dengan firman Allah Taala:
Bukankah Dia mendapati engkau yatim piatu, lain Dia memberikan perlindungan? (Ad-Dhuha: 6)

(PENGAJARAN : Ketabahan pendakwah menanggung keperitan sebagai anak yatim atau kesusahan hidup semasa kecil, menjadikan beliau lebih sensitif dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia. Dia menjadi lebih belas simpati kepada anak yatira, orang miskin dan mereka yang diseksa. la juga menjadikan beliau berusaha untuk berlaku adil, melakukan kebajikan dan mengasihi golongan ini. Setiap pendakwah perlu kepada aset peri kemanusiaan yang mulia untuk membolehkan beliau merasai kesengsaraan orangyang lemah dan susah. Tiada yang boleh membekalkan perasaan kemanusiaan ini kepadanya kecuali beliau sendiri mengalami kesulitan yang dirasai oleh golongan yang lemah seperti anak-anak yatim, para fakir dan miskin.)

3. Rasulullah s.a.w. menghabiskan empat tahun pertama zaman kanak-kanak di padang pasir, di perkampungan Bani Saad. Oleh itu, Baginda membesar dengan tubuh yang kuat, jasmani yang sejahtera, lidah yang fasih, jiwa yang berani dan mampu menunggang kuda dengan baik sekalipun masih kecil usianya. Bakat-bakat Baginda terasah dalam kemurnian dan keheningan padang pasir, dibawah kilauan pancaran matahari dan udara yang bersih.

4. Keunggulan Baginda telah diketahui sejak kecil lagi. Tampak pada roman mukanya tanda-tanda kecerdikan yang menimbulkan rasa sayang kepada sesiapa yang melihat Baginda. Apabila Rasul s.a.w. datang ke majlis datuknya semasa zaman kanak-kanak, Baginda duduk di atas tilam datuknya. Sedangkan jika datuknya duduk di atas tilam itu, tiada seorangpun anak-anaknya (bapa saudara Rasul) akan duduk di atasnya. Oleh itu, bapa-bapa saudara Baginda cuba menariknya daripada tilam tersebut. Lantas Abdul Muttolib berkata: Biarkan cucuku ini. Demi Allah dia memiliki keistimewaan.

5. Pada awal remaja, Baginda s.a.w. mengembala kambing untuk penduduk Makkah dengan bayaran upah beberapa qirat (1/24 dinar). Telah sabit daripada Baginda s.a.w., bahawa Baginda bersabda:
مَامِنْ نَبِيٍّ إِلا قَدْرَعَى الغَنَمَ قَالوُا: وَأنَتَ يَا رَسُولَ الله قَا لَ: وَأنَا
Semua nabi pernah mengembala kambing. Mereka bertanya: Kamu juga wahai Rasulullah? Baginda menjawab: Aku juga begitu.

Dalam riwayat lain, Baginda bersabda:
مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيا إِلا رَعَى الغَنَمَ فَقَالَ لَهُ اَصْحَابُهُ : وَاَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ فَأَ جَابَ: وَأَنَا رَعَيْتُهَا لأ هْل مَكَّتً
عَلىَ قَرَ ارِ يطَ
Semua Nabi yang diutuskan Allah pernah mengembala kambing. Maka sahabat Baginda bertanya kepadanya: Kamu juga wahai Rasulullah? Lantas Baginda tnenjawab: Aku juga begitu. Aku pernah mengembala kambing untuk penduduk Makkah dengan upah beberapa qirat.

Kemudian, apabila umur Baginda mencapai 25 tahun, Baginda berniaga untuk Khadijah binti Khuwailid. Baginda berniaga bermodalkan harta Khadijah dengan mendapat bayaran upah.

(PENGAJARAN : Dalam urusan sara hidup, seseorang pendakwah perlu bergantung kepada usaha peribadinya dan sumber pencarian yang mulia. Dia tidak mengemis, merendah harga diri atau hina. Pendakwah yang benar dan mulia tidak rela hidup dengan hasil sedekah dan
pemberian orang).

6. Baginda s.a.w. tidak menyertai rakan-rakan sebayanya di kalangan remaja Makkah dalam bersukaria dan berfoya-foya. Allah telah memelihara Baginda daripada terlibat dalam gejala tersebut. Kitab-kitab sirah menceritakan dengan panjang lebar, semasa usia remajanya, Baginda terdengar suara nyanyian daripada salah sebuah rumah di Makkah sempena majlis perkahwinan. Baginda teringin menyaksikannya. Tetapi Allah menjadikan Baginda tertidur. Baginda hanya terjaga setelah matahari panas terik. Baginda juga tidak terlibat bersama kaumnya menyembah berhala, makan sembelihan untuk berhala, minum arak dan bermain judi. Baginda juga tidak pernah bercakap celupar dan berkata kesat.

(PENGAJARAN : Kehidupan pendakwah yang lurus semasa remaja dan perjalanan hidup yang baik lebih menjamin kejayaan beliau dalam dakwah kepada Allah, pengislahan akhlak dan memerangi mungkar. Ini kerana, dia tidak akan berhadapan dengan orang yang mencemuh keperibadiannya ketika dia masih belum berkecimpung dalam dakwah. Ramai yang kita temui melakukan dakwah islah, khususnya pengislahan akhlak; faktor terbesar orang ramai menolak mereka ialah komen terhadap latar belakang hidup mereka yang tercemar dan akhlak mereka yang menyeleweng).

Marilah kita berusaha memiliki keperibadian dan akhlak yang baik sebagaimana RasuluLlah saw. Semoga ALlah sentiasa memberi kekuatan dan pertolongan untuk terus memperbaiki akhlak dan keperibadian kita.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Peristiwa sekitar kelahiran Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 28 Jun 2010



A. Peristiwa Kelahiran Nabi Muhammad SAW

1. Kemuliaan Ayahanda Nabi Muhammad SAW

Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW orang yang dipercaya memelihara serta menjaga ka’bah dan sumur zam-zam. Saat Abdul Muthalib mengajak penduduk mekah bergotong-royong memperbaiki sumur zam-zam, banyak yang menolak dan hanya beberapa orang saja yang membantunya.

Pada waktu kesulitan itulah Abdul Muthalib bernazar jika dia dikaruniai sepuluh anak laki-laki ia akan mengorbankan satu diantaranya. Ketika Abdul Muthalib telah dikaruniai sepuluh anak laki-laki, nazar tersebut benar-benar dilaksanakannya. Untuk menentukan siapa yang akan dikorbankan, Abdul Muthalib mengundinya. Undian pun jatuh kepada Abdullah (ayah Nabi Muhammad SAW).

Atas saran kaum quraisy dan saran seorang perempuan ahli nujum dari Hijaz, undian itu harus diulang bukan dengan anak-anaknya tetapi dengan sepuluh ekor unta. Namun hasil undian itu tetap jatuh kepada Abdullah. Demikianlah undian itu diulang-ulang hingga jumlah unta menjadi seratus ekor. Setelah jumlah unta mencapai seratus, undian pun jatuh kepada seratus ekor unta. Undian itu diulag sampai 3 kali dan hasilnya jatuh kepada seratus ekor unta. Akhirnya Abdul Muthalib menyembelih seratus ekor unta, dan selamatlah Abdullah dari penyembelihan karena Allah SWT berkehendak menjaga Abdullah.

2. Hancurnya Pasukan Gajah

Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah.

Tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW disebut tahun Gajah karena pada tahun itu datang pasukan tentara gajah. Pasukan itu dipimpin oleh seorang raja dari negeri Yaman bernama Abrahah. Disebut tentara gajah karena Abrahah dan tentaranya datang dengan membawa pasukan gajah. Tujuannya adalah menyerbu kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah.

Ketika pasukan bergajah itu telah mendekati Mekah, mereka berhenti dan membuat kemah. Kemudian Abrahah mengirim seorang utusan kepada Abdul Muthalib sebagai penjaga Ka’bah. Utusan itu menyampaikan pesan bahwa kedatangannya untuk menghancurkan Ka’bah. Namun Allah SWT menjaga dan melindungi rumah suci itu. Allah SWT mengutus segerombolan burung Ababil yang membawa batu kerikil yang sangat panas dari Sijjil (tanah yang terbakar). Burung-burung itu melempari tentara Abrahah sehingga hancur binasa. Selamatlah Ka’bah dari kehancuran karena pertolongan Allah SWT. Peristiwa ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Al Fiil ayat 1-5.

B. Peristiwa Luar Biasa pada Malam Kelahiran Nabi Muhammad SAW

1. Mimpi Abdul Muthalib dan Aminah.

Pada malam kelahiran Nabi Muhammad SAW Abdul Muthalib melihat sebuah sinar terang keluar dari punggungnya. Cahaya itu menyinari seluruh dunia hingga terang benderang. Begitu pula Aminah (ibunda Nabi Muhammad SAW), pernah bermimpi melihat cahaya keluar dari tubuhnya dan menyinari istana Kerajaan Syam.

2. Langit indah diatas Kota Mekah.

3. Api sesembahan orang Majusi mendadak padam.

4. Istana Kisra Unusyirwan rusak.

5. Kesaksian para pendeta Nasrani.

Seorang Yahudi ahli kitab di Yatsrib melihat sebuah bintang cemerlang yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Orang Yahudi menceritakan bahwa munculnya bintang itu pertanda seorang nabi pasti telah lahir.

C. Peristiwa Luar Biasa setelah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Diantara kisah luar biasa itu antara lain :

1. Keberkahan bagi keluarga Halimah Sa’diyah.

Asal mulanya kambing Halimah Sa’diyah kurus-kurus dan air susunya kering, tiba-tiba air susunya penuh sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

2. Nabi Muhammad SAW dibelah dadanya.

Ketika usia 4 tahun, Nabi Muhammad SAW dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril. Dari dalam dadanya itu dikeluarkan segumpal daging yaitu hati.

Dari hatinya itu dikeluarkan segumpal darah hitam. Malaikat membuang sifat-sifat kotor dan memasukkan sifat-sifat baik ke dalam hati Nabi Muhammad SAW.

3. Meminta hujan melalui Nabi Muhammad SAW.

4. Pertemuan dengan Pendeta Bakhiro.

Ketika Muhammad berusia 12 tahun, beliau diajak oleh pamannya Abu Thalib, berdagang ke negeri Syam. Disana Nabi Muhammad bertemu dengan pendeta yang bernama Bakhiro, dia mengatakan bahwa pada pundak Nabi Muhammad ada cap kenabian, sehingga pendeta Bakhiro tadi menyarankan agar Abu Thalib segera membawa pulang ke Mekah karena khawatir ada orang yang berbuat jahat.

SEJARAH KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW

A. Keadaan Penduduk Mekah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sebagian besar penduduk Mekah menyembah berhala. Akhlak dan tingkah laku mereka sangat buruk, moralnya sudah rusak. Minum-minuman keras dan mabuk-mabukan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Usaha dan perekonomian mereka sudah cukup maju. Mereka suka berdagang ke luar negeri. Diantara mereka banyak yang menjadi saudagar, namun dari hasil usahanya untuk berjudi, berfoya-foya dan mabuk-mabukan.

Selain menyembah berhala mereka juga percaya kepada Tahayul, percaya kepada ramalan nasib, mereka suka mengundi nasib dengan anak panah di depan berhala Uzza dan di dekat Ka’bah.

Dalam masyarakat Arab terdapat beberapa golongan. Diantaranya adalah golongan bangsawan, yaitu golongan dari keturunan terhormat. Nabi Muhammad dilahirkan dari keluarga golongan bangsawan Quraisy yang sangat dihormati dan disegani.

B. Silsilah Keturunan Nabi Muhammad SAW.

Ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Setelah menikah dengan Aminah, Abdullah pergi berdagang ke negeri Syam. Dalam perjalanan pulang Abdullah sakit hingga meninggal dan dimakamkan di Madinah. Abdullah wafat, Aminah sedang mengandung Nabi Muhammad SAW. Sehingga ketika beliau lahir dalam keadaan Yatim. Ibunda Nabi Muhammad SAW bernama Aminah binti Wahab, berasal dari kota Madinah. Aminah adalah wanita terhormat dan berbudi luhur.

A. Nabi Muhammad SAW lahir.

Nabi Muhammad SAW lahirpada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah bertepatan tanggal 20 April 571 Masehi.

Aminah menceritakan pada waktu melahirkan dia merasakan di sekelilingnya ada cahaya gemerlap bagaikan bintang berjatuhan. Pada waktu itu kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib sedang berada di Ka’bah, mendengar cucunya lahir Abdul Muthalib pulang dan merasa bangga serta gembira karena cucu yang dinantikan sudah lahir. Kemudian Abdul Muthalib memberi nama Muhammad artinya “orang yang terpuji”.

B. Masa Bayi Nabi Muhammad SAW

1. Tanggapan Masyarakat Mekah terhadap Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Mekah menyambutgembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena ia adalah cucu laki-laki dari Abdul Muthalib yang sangat dihormati.

2. Nabi Muhammad SAW dalam Asuhan Halimah.

Ketika Nabi Muhammad SAW masih bayi, beliau disusui oleh ibunya selama 3 hari. Kemudian disusui oleh Suwaibah selama beberapa hari. Selanjutnya disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib dari DESAH Sa’diyah selama 4 tahun. Suami Halimah Sa’diyah bernama Haris bin Abdul Muthalib Uzza yang terkenal dengan sebutan Abu Kabsyah. Keluarga Halimah sangat menyenangi Muhammad. Mereka mengasuh dan menyayangi Muhammad dengan penuh kasih sayang seperti kepada anaknya sendiri.

3. Nabi Muhammad SAW Menjadi Yatim Piatu

Setelah 4 tahun Halimah mengasuh Nabi Muhammad SAW lalu mengembalikannya kepada ibunya Aminah. Sejak itu Nabi Muhammad SAW diasuh oleh ibunya sendiri dengan dibantu oleh seorang wanita bernama Ummu Aiman.

Ketika berumur 6 tahun Nabi Muhammad SAW diajak ibunya pergi ke kota Yasrib untuk berziarah ke makam ayahnya dan mengunjungi keluarganya yang tinggal di Yasrib. Dalam perjalanan itu, ikut pula Ummu Aiman.

Dalam perjalanan pulang Aminah sakit parah hingga wafat dan dimakamkan di desa Abwa’ yaitu desa yang terletak antara Mekah dan Madinah. Dalam usia 6 tahun beliau sudah menjadi yatim piatu.

4. Nabi Muhammad SAW dalam Asuhan Abdul Muthalib.

Selesai pemakaman Aminah, Ummu Aiman membawa Nabi Muhammad SAW pulang ke Mekah ia menyerahkan kepada Abdul Muthalib, kakeknya. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Abdul Muthalib hanya sempat mengasuh cucunya selama 2 tahun. Abdul Muthalib meninggal dalam usia 80 tahun. Setelah kakeknya wafat beliau ikut pamannya Abu Thalib.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Tanda kemuliaan Nabi Muhammad saw sebelum dilahirkan ibunya

Posted by Sifuli di 27 Jun 2010



Kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. pada 12 Rabiulawal, Tahun Gajah di Mekah al-Mukarramah sebagai pembuka rahmat di pelosok alam semesta.

Kelahiran baginda menjadi seribu satu tanda bahawa baginda akan menjadi utusan terakhir dalam menyampaikan risalah Islam. Ia merupakan peristiwa utama dalam sejarah Islam.

Baginda mempunyai kelebihan luar biasa, bukan sahaja dilihat dalam konteks sebelum kelahirannya tetapi dalam konteks semasa dan selepas dilahirkan. Peristiwa luar biasa ini disebut sebagai Irhas.

Irhas bermaksud satu perkara luar biasa bagi manusia yang normal dan hanya diberikan kepada bakal nabi. Irhas dikategorikan kepada tiga:

1. Irhas yang dinyatakan di dalam kitab yang tidak boleh diubah atau dipinda.

2. Alamat-alamat kerasulan yang dibuktikan melalui perkhabaran daripada orang alim melalui ilham dan sebagainya.

3. Kejadian luar biasa yang berlaku semasa kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Sehubungan itu, masih ramai masyarakat Islam yang sebenarnya tidak mengetahui peristiwa di sebalik kelahiran baginda. Ini kerana masih banyak lagi rahsia yang belum tersingkap.

Oleh itu penulis terpanggil untuk menyingkap kembali peristiwa di sebalik kelahiran baginda Junjungan Besar s.a.w.

Sebenarnya banyak keajaiban yang berlaku sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.

Pertama, semasa Rasulullah s.a.w. berada di dalam kandungan bondanya, Aminah, beliau tidak merasa susah sebagaimana dialami oleh ibu-ibu yang hamil.

Kehamilannya disedari melalui perkhabaran malaikat yang datang kepadanya ketika beliau sedang tidur. Malaikat mengatakan bahawa beliau telah mengandungkan seorang Nabi dan Penghulu kepada seluruh umat manusia.

Selain itu kehamilannya ditandai dengan haidnya terputus dan berpindahnya cahaya daripada wajah Abdullah ke wajahnya.

Kedua, ketika Nur Muhammad masuk ke dalam rahim Aminah, Allah memerintahkan malaikat supaya membukakan pintu syurga Firdaus dan memberitahu semua penghuni langit dan bumi.

Tanah-tanah di persekitaran kawasan tersebut yang kering menjadi subur, pohon-pohon kayu rimbun dan berbuah lebat. Begitu juga haiwan-haiwan di darat dan di laut sibuk membincangkannya.

Ketiga, peperangan tentera bergajah yang disebut di dalam al-Quran surah al-Fil, datang menyerang kota Mekah. Ia diketuai oleh tentera bergajah dengan menunggang seekor gajah besar bernama Mahmudi.

Apabila mereka hampir sampai ke tempat tersebut, gajah-gajah itu berhenti dan berundur dengan izin Allah.

Namun demikian, sekumpulan burung Ababil datang menyerang dan menghancurkan mereka sebagaimana yang disebut di dalam al-Quran. Peristiwa ini amat menakjubkan dan diriwayatkan dalam kitab-kitab sejarah.

Keempat, Aminah turut mengalami mimpi yang menakjubkan. Beliau menadah tangan ke langit dan melihat sendiri malaikat turun dari langit. Ia diumpamakan kapas putih yang terapung di angkasa.

Kemudian malaikat tersebut berdiri di hadapannya. Ia berkata “Khabar bahagia untuk saudara, wahai ibu daripada seorang nabi. Putera saudara itu menjadi penolong dan pembebas manusia. Namakan dia Ahmad.”

Semasa kelahiran Nabi Muhammad s.a.w., Aminah ditemani Asiah dan Maryam. Dalam hal ini ia merupakan satu isyarat bahawa Nabi Muhammad lebih tinggi darjatnya daripada Nabi Isa dan Musa.

Keadaan ini diterangkan dalam kitab Taurat dan Injil bahawa akan datang seorang nabi pada akhir zaman.

Semasa baginda dilahirkan, bondanya menyaksikan nur atau cahaya keluar dari tubuh badan baginda. Cahaya tersebut menyinari sehingga ke Istana Busra di Syria.

Ia dilihat seolah-olah seperti anak panah bagaikan pelangi sehingga dari jauh kota-kota tersebut dapat dilihat.

Ada juga yang berpendapat bahawa cahaya itu datang dan menerangi seluruh dunia. Ini dapat dijelaskan oleh sumber-sumber Arab yang paling awal yang menyatakan bahawa suatu cahaya terpancar dari rahim Aminah apabila baginda dilahirkan.

Aminah sendiri melihat baginda dalam keadaan terbaring dengan kedua tangannya mengangkat ke langit seperti seorang yang sedang berdoa.

Kemudian bondanya melihat awan turun menyelimuti dirinya sehingga beliau mendengar sebuah seruan “Pimpinlah dia mengelilingi bumi Timur dan Barat, supaya mereka tahu dan dialah yang akan menghapuskan segala perkara syirik”.

Selepas itu awan tersebut lenyap daripada pandangan Aminah. Setengah riwayat menyatakan nabi dilahirkan dalam keadaan memandang ke arah langit sambil meletakkan tangannya ke tanah sebagai tanda ketinggian martabatnya daripada semua makhluk.

Dikatakan juga pada malam kelahiran baginda, berhala-berhala yang terdapat di situ mengalami kerosakan dan kemusnahan.

Menurut riwayat daripada Abdul Mutalib, “Ketika aku sedang berada di Kaabah, tiba-tiba berhala jatuh dari tempatnya dan sujud kepada Allah. Lalu aku mendengar suara dari dinding Kaabah berkata, “telah lahir nabi pilihan yang akan membinasakan orang kafir dan mensucikanku daripada berhala-berhala ini dan akan memerintahkan penyembahan Yang Maha Mengetahui.”

Selain itu di tempat yang lain pula satu goncangan berlaku di mahligai Kisra dan menyebabkan mahligai tersebut retak, manakala empat belas tiang serinya runtuh. Keadaan ini merupakan di antara tanda -tanda keruntuhan kerajaan tersebut.

Namun, api di negara Parsi yang tidak pernah padam hampir selama seribu tahun telah padam dengan sendirinya. Api tersebut merupakan api sembahan orang-orang Majusi yang dianggap sebagai tuhan. Peristiwa itu amat mengejutkan orang Parsi.

Dalam waktu yang sama, pada malam kelahiran baginda, Tasik Sava yang dianggap suci tenggelam ke dalam tanah.

Setelah baginda lahir, tembakan bintang menjadi kerap sebagai tanda bahawa pengetahuan syaitan dan jin mengenai perkara ghaib sudah tamat.

Dalam riwayat yang sahih dan masyhur, ketika baginda diasuh oleh ibu susunya iaitu Halimatus Sa’diah, ladang-ladang Halimah kembali menghijau setelah mengalami kemarau.

Begitu juga binatang ternakan seperti kambing mengeluarkan susu yang banyak. Selain itu, Nabi tidak pernah diganggu walaupun oleh seekor lalat termasuk juga pakaian baginda.

Halimah dan suaminya juga beberapa kali melihat tompokan awan kecil di atas kepala melindungi baginda daripada panas matahari.

Ketika berusia empat tahun, sedang baginda bermain-main dengan saudara susuannya, tiba-tiba datang malaikat mendekati baginda iaitu malaikat Jibril dan Mikail.

Lalu membelah dada baginda dan mengeluarkan segumpal darah dan mencuci gumpalan darah itu dengan salji. Ada yang meriwayatkan bahawa gumpalan darah itu dicuci di dalam bejana emas dengan air zam-zam, lalu diletakkan semula di tempatnya.

hal ini jelas diterangkan dalam surah Insyirah ayat 1 : Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (wahai Muhammad)?

Berdasarkan peristiwa tersebut jelaslah kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. mempunyai keistimewaan tersendiri. Ini kerana baginda adalah khatamun nubuwwah, penutup segala nabi.

Perkara -perkara luar biasa ini telah membuktikan kepada kita kemuliaan baginda di sisi Allah, sekali gus sebagai bukti kerasulannya.

Di samping itu, bukti -bukti tersebut juga dijelaskan di dalam kitab kitab terdahulu seperti kitab Taurat, Zabur dan Injil sebagai rasul yang terakhir.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Misteri kewafatan Abdullah Ayahanda Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 26 Jun 2010



Rancangan jahat orang Yahudi membunuh Rasulullah saw telah direncanakan sejak sebelum rasulullah lahir lagi. Usaha itu dilakukan bahkan ketika beliau masih berada dalam sulbi ayahnya, Abdullah dan saat berada dalam perut ibunya, Aminah. Setelah beliau lahir, usaha membunuh beliau semakin menjadi-jadi.

Para dukun dan rabi Yahudi berusaha keras membunuh Abdullah, ayah Nabi Muhammad saw. Salah satu tokoh mereka mengatakan, “Siapkan makanan yang telah diberi racun yang sangat mematikan dan kemudian makanan itu berikan kepada Abdul Mutthalib.” Orang-orang Yahudi melakukan hal itu lewat para perempuan yang menutup wajahnya dengan kain. Setelah makanan tersebut selesai dibuat, mereka membawanya kepada Abdul Mutthalib.

Ketika sampai di rumah Abdul Mutthalib, isterinya keluar dan menyambut mereka. Mereka berkata, “Kami masih keturunan Abdi Manaf dan itu berarti masih famili jauh kalian.” Mereka lantas memberikan makanan tersebut sebagai hadiah. Setelah mereka pergi, Abdul Mutthalib berkata kepada keluarganya, “Kemarilah keluargaku, kita menyantap bersama apa yang dibawakan oleh famili jauh kita.” Namun, saat mereka hendak memakan hidangan yang dibawa itu, terdengar suara dari makanan tersebut, “Kalian jangan memakan aku, karena aku telah diracuni oleh mereka.” Keluarga Abdul Mutthalib tidak jadi makan dan kemudian berusaha mencari tahu siapa para perempuan yang menghadiahi mereka hidangan itu. Namun selidik punya selidik mereka tidak berhasil mengetahui identitas mereka. Ini adalah salah satu tanda-tanda kenabian Rasulullah sebelum lahir.

Tidak berhasil, kembali sekelompok rahib Yahudi dengan memakai pakaian pedagang Syam memasuki kota Mekkah. Mereka sengaja datang ke sana untuk membunuh Abdullah, ayah Rasulullah saw. Sejak awal mereka telah mempersiapkan pedang yang telah di olesi racun. Mereka dengan sabar menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat jauh-jauh hari.

Suatu hari, Abdullah bin Abdul Mutthalib keluar dari kota Mekkah untuk berburu. Orang-orang Yahudi melihat ini sebagai sebuah kesempatan bagus untuk membunuh Abdullah. Di suatu tempat mereka mengepung dan hendak membunuhnya. Namun lagi-lagi usaha mereka gagal, karena tiba-tiba ada sekelompok Bani Hasyim yang kembali dari perjalanan melalui tempat tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Abdullah berhasil selamat dari niat busuk orang-orang Yahudi. Sempat terjadi bentrok antara orang-orang Yahudi dan Bani Hasyim yang berujung pada sejumlah pendeta Yahudi tewas dan sebagian lainnya ditawan dan dibawa kembali ke Madinah.

Abdullah, ayah Rasulullah saw meninggal secara misteri. Sebahagian ada yang meriwayatkan beliau meninggal pada umur 17 tahun sementara lainnya menyebutkan 25 tahun.

Kazruni dalam bukunya al-Muntaqi menulis:

“Abdullah Mutthalib lahir tepat 24 tahun sejak masa pemerintahan Anushirvan, Raja Kisra. Ketika berumur 17 tahun, beliau menikah dengan Aminah. Ketika Aminah hamil Rasulullah saw, Abdullah meninggal dunia di Madinah. Semua orang menuduh penyebab kematian Abdullah adalah orang-orang Yahudi. Mereka meracuni Abdullah. Karena ketika di Mekkah mereka berkali-kali berusaha membunuh Abdullah namun tidak sempat karena ada kendala. Bagaimana bila Abdullah ke Madinah yang di sana hidup banyak orang Yahudi?”

Tentunya, tujuan asli adalah Rasulullah saw, namun ayahnya, Abdullah yang menjadi korban.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Ayah Bonda Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 26 Jun 2010



PERKAHWINAN ‘ABDULLAH DENGAN AMINAH

Usia Abdul Muthalib sudah hampir mencapai tujuh puluh tahun atau lebih tatkala Abrahah menyerang Makkah dan cuba menghancurkan Ka’bah. Ketika itu umur anaknya, ‘Abdullah sudah dua puluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikahwinkan. Pilihan Abdul Muthalib jatuh kepada Aminah binti Wahab bin ‘Abdul Manaf bin Zuhra – pemimpin suku Zuhra ketika itu yang amat sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat.

Maka pergilah anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. ‘Abdul Muthalib dengan anaknya menemui Wahab dan melamar puterinya. Sebahagian penulis sejarah berpendapat, bahwa mereka pergi menemui Uhyab, bapa saudara Aminah, kerana waktu itu ayahnya sudah meninggal dunia dan dia di bawah asuhan bapa saudaranya.

Lamaran ‘Abdul Mutalib itu diterima dengan amat gembiranya oleh keluarga Zuhra. Persiapan pun dibuat untuk melangsungkan hari kebesaran bagi kedua-dua pengantin yang sama padan bagai pinang dibelah dua itu. Pada hari perkawinan ‘Abdullah dengan Aminah itu, Abdul Muthalib juga berkahwin dengan Hala, sepupu Aminah. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, bapa saudara Rasulullah SAW.

‘Abdullah bersama Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan ‘Arab di mana perkahwinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin perempuan. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abdul Muthalib.

PEMERGIAN ‘ABDULLAH KE SYAM DAN KEWAFATAN

Tidak berapa lama kemudian, ‘Abdullah pun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Syam (Syria pada hari ini) dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil.

Dalam perjalanannya itu, ‘Abdullah tinggal di Syam selama beberapa bulan. Dalam pada itu beliau pergi juga ke Gaza dan kembali ke Makkah. Di tengah-tengah perjalanannya, ‘Abdullah singgah ke tempat saudara-saudara ibunya, Bani Adiy bin Najjar di Madinah, sambil beristirehat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu beliau akan kembali pulang dengan kafilah ke Makkah. Akan tetapi kemudian beliau menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannya pun pulang terlebih dahulu meninggalkannya. Dan merekalah yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya, ‘Abdul Muthalib setelah mereka sampai di Makkah.

Apabila berita itu sampai kepada Abdul Muthalib, beliau mengutus anaknya yang sulung, Harith, ke Madinah, supaya membawa kembali ‘Abdullah apabila beliau sudah sembuh. Tetapi sesampainya Harith di Madinah, dia mengetahui bahawa ‘Abdullah sudah pun meninggal dunia dan juga dikuburkan, sebulan selepas kafilahnya berangkat ke Makkah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muthalib, lebih-lebih lagi Aminah, kerana dia telah kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga ‘Abdul Muthalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya terhadap berhala yang sedemikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat ‘Arab sebelum itu.

Peninggalan ‘Abdullah sesudah wafat terdiri daripada lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan, iaitu Ummu Aiman, yang kemudiannya menjadi pengasuh Rasulullah SAW. Boleh jadi peninggalan serupa itu bukan bererti suatu tanda kekayaan; tetapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di samping itu, umur ‘Abdullah yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu beliau memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

KEWAFATAN AMINAH, IBU RASULULLAH SAW

Setelah Rasulullah SAW berada di bawah jagaan Halimatus Sa’diyyah selama empat tahun lamanya, anak itu dikembalikan kepada ibunya, Aminah. Menurut adat Arab, setiap tahun Aminah pergi menziarahi ke pusara suaminya dekat kota Madinah itu. Setelah Rasulullah SAW dikembalikan oleh Halimah, tidak berapa lama kemudian, pergilah dia berziarah ke pusara suaminya itu bersama-sama dengan anaknya yang masih dalam pangkuan itu, bersama-sama pula dengan budak pusaka ayahnya, seorang perempuan bernama Ummi Aiman.

Tetapi di dalam perjalanan pulang, Aminah ditimpa demam pula, lalu menemui ajalnya. Dia meninggal dan mayatnya dikuburkan di al-Abwa’, suatu dusun di antara kota Madinah dengan Makkah. Anak yang malang itu pindahlah ke dalam gendungan Ummi Aiman. Dialah yang membawa anak itu balik ke Makkah. Anak itu kemudiannya diasuh dengan penuh kasih sayang oleh datuknya ‘Abdul Muttalib.

Berkata Ibnu Ishak : “Maka adalah Rasulullah SAW itu hidup di dalam asuhan datuknya ‘Abdul Muttalib bin Hasyim. Datuknya itu ada mempunyai suatu hamparan tempat duduk di bawah lindungan Ka’bah. itu. Anak-anaknya semuanya duduk di sekeliling hamparan itu. Kalau dia belum datang, tidak ada seorang pun anak-anaknya yang berani duduk dekat, lantaran amat hormat kepada orang tua itu.

Maka datanglah Rasulullah SAW, ketika itu dia masih kanak-kanak, dia duduk saja di atas hamparan itu. Maka datang pulalah anak-anak datuknya itu hendak mengambil tangannya menyuruhnya undur. Demi kelihatan oleh ‘Abdul Muttalib, dia pun berkata : “Biarkan saja cucuku ini berbuat sekehendaknya. Demi Allah sesungguhnya dia kelak akan mempunyai kedudukan penting.’ Lalu anak itu didudukkannya di dekatnya, dibarut-barutnya punggungnya dengan tangannya, disenangkannya hati anak itu dan dibiarkannya apa yang diperbuatnya.”

HALIMATUS SA’DIYYAH – IBU SUSU MUHAMMAD SAW

Menurut adat Arab, anak itu tidak disusukan oleh ibunya sendiri jika dia orang terpandang, tetapi dicarikan seorang tukang menyusu dari kampung Badwi. Kerana kehidupan anak-anak itu di dusun boleh menguatkan tubuhnya dan memperbaiki lidahnya (melatih bahasa ‘Arab), agar jangan kena ‘hawa’ kota. Menurut pendapat orang Arab, tukang susu atau tukang didik orang kota itu serupa dengan malam yang gelap gelita layaknya, menghabiskan pengharapan tentang hari kemudian anak-anak. Oleh itu, Abdul Muthalib pun mencari para wanita yang sesuai untuk menyusui Muhammad Rasulullah SAW.

Pada waktu itu, datanglah ke kota beberapa orang perempuan dari Badwi bani Sa’ad bin Bakr mencari anak-anak yang akan disusukan. Yang beruntung beroleh Muhammad ialah seorang perempuan bernama Halimah binti Abu Zu’aib bin al-Harits as-Sa’diyyah. Suaminya bernama al-Harits bin ‘Abdul-Uzza, yang diberi gelaran Abu Kabsyah, berasal dari kabilah yang sama. Maka diterimanyalah anak kecil itu dari ibunya, lalu terus digendungnya ke kampungnya di Badwi Bani Sa’ad bin Bakr. Empat tahun lamanya anak itu di dalam asuhan Halimah.

Antara saudara-saudara Rasulullah SAW dari satu susuan di sana adalah Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti Al-Harits. Bapa saudara Baginda, Hamzah bin Abdul Muthalib juga disusui di Bani Sa’ad. Suatu hari ibu susuan Rasulullah SAW ini juga pernah menyusui Hamzah semasa beliau masih dalam susuannya. Jadi Hamzah adalah saudara sesusuan Rasulullah SAW dari dua pihak, yaitu dari Tsuwaibah dan dari Halimah as-Sa’diyyah.

Ahli sirah telah sebulat suara mengatakan bahawa kampung bani Sa’ad ketika itu mengalami kemarau yang teruk. Sesampai sahaja Rasulullah SAW ke rumah Halimatus Sa’diyyah dan menyusu darinya ketika itu juga keadaan pun berubah. Kampung yang dulunya kering tandus mulai menghijau, kambing ternakan yang dahulu kelaparan kini bila kembali dari ladang ternakan kelihatan riang dan uncang-uncang susunya penuh dengan susu.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Aminah bonda Nabi Muhammad saw

Posted by Sifuli di 26 Jun 2010



Seorang wanita berhati mulia, pemimpin para ibu. Seorang ibu yang telah menganugerahkan anak tunggal yang mulia pembawa risalah yang lurus dan kekal, rasul yang bijak, pembawa hidayah. Dialah Aminah binti Wahab. Ibu dari Nabi kita Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam)yang diutus ALLAH sebagai rahmat seluruh alam. Cukuplah baginya kemuliaan dan kebanggaan yang tidak dapat dimungkiri, bahwa ALLAH Azza Wa Jalla memilihnya sebagai ibu seorang rasul mulia dan nabi yang terakhir.

Berkatalah Baginda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) tentang nasabnya. “ALLAH telah memilih aku dari Kinanah, dan memilih Kinanah dari suku Quraisy bangsa Arab. Aku berasal dari keturunan orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik, dari orang-orang yang baik.” Dengarlah sabdanya lagi, “Allah memindahkan aku dari sulbi-sulbi yang baik ke rahim-rahim yang suci secara terpilih dan terdidik. Tiadalah bercabang dua, melainkan aku di bahagian yang terbaik.”

Bunda Aminah bukan cuma ibu seorang rasul atau nabi, tetapi juga wanita pengukir sejarah. Kerana risalah yang dibawa putera tunggalnya sempurna, benar dan kekal sepanjang zaman. Suatu risalah yang bermaslahat bagi ummat manusia. Berkatalah Ibnu Ishaq tentang Bunda Aminah binti Wahab ini. “Pada waktu itu ia merupakan gadis yang termulia nasab dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.”

Menurut penilaian Dr. Bint Syaati tentang Aminah ibunda Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) iaitu. “Masa kecilnya dimulai dari lingkungan paling mulia, dan asal keturunannya pun paling baik. Ia (Aminah) memiliki kebaikan nasab dan ketinggian asal keturunan yang dibanggakan dalam masyarakat aristokrasi (bangsawan) yang sangat membanggakan kemuliaan nenek moyang dan keturunannya.”

Aminah binti Wahab merupakan bunga yang indah di kalangan Quraisy serta menjadi puteri dari pemimpin bani Zuhrah. Pergaulannya senantiasa dalam penjagaan dan tertutup dari pandangan mata. Terlindung dari pergaulan bebas sehingga sukar untuk dapat mengetahui jelas penampilannya atau gambaran fizikalnya. Para sejarawan hampir tidak mengetahui kehidupannya kecuali sebagai gadis Quraisy yang paling mulia nasab dan kedudukannya di kalangan Quraisy.

Meski tersembunyi, baunya yang harum semerbak keluar dari rumah bani Zuhrah dan menyebar ke segala penjuru Makkah. Bau harumnya membangkitkan harapan mulia dalam jiwa para pemudanya yang menjauhi wanita-wanita lain yang terpandang dan dibicarakan orang.

Cahaya di dahi

ALLAH memilih Aminah “Si Bunga Quraisy” sebagai isteri Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib di antara gadis lain yang cantik dan suci. Ramai gadis yang meminang Abdullah sebagai suaminya seperti Ruqaiyah binti Naufal, Fatimah binti Murr, Laila al Adawiyah, dan masih ramai wanita lain yang telah meminang Abdullah.

Ibnu Ishaq menuturkan tentang Abdul Muthalib yang membimbing tangan Abdullah anaknya setelah menebusnya dari penyembelihan. Lalu membawanya kepada Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah – yang waktu itu sebagai pemimpin bani Zuhrah – untuk dinikahkan dengan Aminah.

Sayyid Abdullah adalah pemuda paling tampan di Makkah. Paling memukau dan paling terkenal di Makkah. Tak hairan, jika ketika ia meminang Aminah, ramai wanita Makkah yang patah hati.”

Cahaya yang semula memancar di dahi Abdullah kini berpindah ke Aminah, padahal cahaya itulah yang membuat wanita-wanita Quraisy rela menawarkan diri sebagai calon isteri Abdullah. Setelah berhasil menikahi Aminah, Abdullah pernah bertanya kepada Ruqaiyah mengapa tidak menawarkan diri lagi sebagai suaminya. Apa jawab Ruqayah, “Cahaya yang ada padamu dulu telah meninggalkanmu, dan kini aku tidak memerlukanmu lagi.”

Fatimah binti Murr yang ditanyai juga berkata, “Hai Abdullah, aku bukan seorang wanita jahat, tetapi kulihat aku melihat cahaya di wajahmu, kerana itu aku ingin memilikimu. Namun ALLAH tak mengizinkan kecuali memberikannya kepada orang yang dikehendakiNya.” Jawaban serupa juga disampaikan oleh Laila al Adawiyah. “Dulu aku melihat cahaya bersinar di antara kedua matamu kerana itu aku mengharapkanmu. Namun engkau menolak. Kini engkau telah mengahwini Aminah, dan cahaya itu telah lenyap darimu.”

Memang “cahaya” itu telah berpindah dari Abdullah kepada Aminah. Cahaya ini setelah berpindah-pindah dari sulbi-sulbi dan rahim-rahim lalu menetap pada Aminah yang melahirkan Nabi Muhammad SAW. Bagi Nabi Muhammad merupakan hasil dari doa Nabi Ibrahim bapanya. Kelahirannya sebagai khabar gembira dari Nabi Isa saudaranya, dan merupakan hasil mimpi dari Aminah ibunya. Aminah pernah bermimpi seakan-akan sebuah cahaya keluar darinya menyinari istana-istana Syam. Dari suara ghaib ia mendengar, “Engkau sedang mengandung pemimpin ummat.”

Masyarakat di Makkah selalu membicarakan, kedatangan nabi yang ditunggu-tunggu sudah semakin dekat. Para pendita Yahudi dan Nasrani, serta peramal-peramal Arab, selalu membicarakannya. Dan ALLAH telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. seperti disebutkan dalam Surah al Baqarah ayat 129. “Ya Tuhan kami. Utuslah bagi mereka seorang rasul dari kalangan mereka.” Dan terwujudlah khabar gembira dari Nabi Isa ‘Alaihissalam. seperti tersebut dalam Surah as-Shaff ayat 6. “Dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad (Muhammad)”. Benar pulalah tentang ramalan mimpi Aminah tentang cahaya yang keluar dari dirinya serta menerangi istana-istana Syam itu.”

Pemimpin Para Ibu

Bunda Aminah adalah pemimpin para ibu, kerana ia ibu Nabi Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) yang dipilih ALLAH sebagai rasul pembawa risalah untuk ummat manusia hingga akhir zaman. Bagninda Muhammadlah penyeru kebenaran dan keadilan serta kebaikan berupa agama Islam. “Dan barangsiapa memilih agama selain Islam, maka tiadalah diterima (agama itu) darinya. Dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Saat menjelang wafatnya, Aminah berkata: “Setiap yang hidup pasti mati, dan setiap yang baru pasti usang. Setiap orang yang tua akan binasa. Aku pun akan wafat tapi sebutanku akan kekal. Aku telah meninggalkan kebaikan dan melahirkan seorang bayi yang suci.”

Diriwayatkan oleh Aisyah dengan katanya, “Rasulullah (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) memimpin kami dalam melaksanakan haji wada’. Kemudian baginda lalu mendekat kubur ibunya sambil menangis sedih. Maka aku pun ikut menangis kerana tangisnya.”

Betapa harumnya nama Aminah, dan betapa kekalnya namanya nan abadi. Seorang ibu yang luhur dan agung sebagai ibu Baginda Muhammad (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) manusia paling utama di dunia, paling sempurna di antara para nabi, dan sebagai rasul yang mulia. Bunda Aminah binti Wahab adalah ibu kandung rasul yang mulia. Semoga ALLAH memberkahinya.

Mari kita kenali nabi kita sampai ke ibu & bapaknya. Yang tak kenal sulit untuk mencintainya.

Semoga ALLAH Ta’ala menjadikan kita sebagai ummat Beliau (Shollallohu ‘Alaihi Wasallam) yang diridloi dunia sampai akhirat. Amiin.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Bukti kerasulan Muhammad dalam kitab kitab Yahudi Kristian dan hindu

Posted by Sifuli di 25 Jun 2010



Khabar-khabar Gembira Tentang Nabi saw di dalam Perjanjian Baru.

Kitab Perjanjian Baru merupakan baki kitab suci bagi umat Nasrani (Kristian), ia adalah bahagian yang terpenting di sisi mereka. Ia dipanggil dengan nama Injil kerana ia disandarkan kepada Nabi Isa as. Tidak beriman dengan Kitab Perjanjian Baru ini seorang pun di kalangan Bangsa Israel melainkan dari kaum Nasrani. Golongan Nasrani membahagikan Kitab Suci itu dua bahagian, Perjanjian Lama seperti yang telah lalu dan Perjanjian Baru.

Injil atau Perjanjian Baru atau juga dikenali dengan himpunan risalah –risalah ini merupakan bahagian yang baru di dalam kitab suci di mana golongan Nasrani menamakan catatan-catatan sebelum zaman kebangkitan Nabi Isa as dengan panggilan Perjanjian lama dan selepas zaman kebangkitannya dengan panggilan Perjanjian Baru. Ia mengandungi 27 kitab yang mana empat kitab pertama daripadanya dipanggil kitab-kitab Injil secara rambang iaitu Matta, Marqus, Luqa dan Yuhana.

Andaian yang dapat kita buat berdasarkan nama-namanya jelas bahawa kitab-kitab itu ditulis oleh pengikut-pengikut setia Nabi Isa as. Ianya merupakan himpunan sepuluh kitab-kitab lain yang tersebar pada awal-awal tahun masihi yang kemudiannya dibatalkan oleh perhimpunan Ugama Kristian kali pertama yang terkenal, diadakan di Nicea (Izniq sekarang) di Asia Kecil pada tahun 325 Masihi di bawah kelolaan Maharaja Kaisar Rom yang bernama Qastantien yang agung di mana telah diputuskan bahawa hanya empat buah kitab ini sahaja yang dibenarkan sebagai sandaran dan selain daripadanya diperintahkan supaya dibakar. Oleh yang demikian ianya terkenal dengan nama Injil-injil Induk atau Injil-injil di sisi undang-undang.

Kitab Injil yang disebut di dalam Al-Quran adalah lain daripada Injil-injil terbabit, tetapi yang dimaksudkan dengan Injil di dalam Al-Quran adalah wahyu asal yang diturunkan secara langsung kepada Nabi Isa as yang dikenali di kalangan orang-orang yang sezaman dengannya dengan nama di dalam bahasa Yunani sebagai “Evangelion” yang bermaksud “Khabar Gembira”.

Himpunan kitab-kitab Perjanjian Baru adalah seperti berikut:

1. Matta

2. Marqus

3. Luqa

4. Yuhana

5. Tugas-tugas Para Utusan

6. Risalah Paulus Kepada Rom

7. Risalah Paulus (1) kepada Korenses

8. Risalah Paulus (2) kepada Korenses

9. Risalah Paulus kepada Galaty

10. Risalah Paulus kepada Efesus

11. Risalah Paulus kepada Piliey

12. Risalah Paulus kepada Kolosy

13. Risalah Paulus (1) kepada Thesaloniky

14. Risalah Paulus (2) kepada Thesaloniky

15. Risalah Paulus (1) kepada Themoses

16. Risalah Paulus (2) kepada Themoses

17. Risalah Paulus kepada Titus

18. Rislah Paulus kepada Pilemon

19. Risalah Paulus kepada Ibrani

20. Risalah James

21. Risalah Petros (1)

22. Risalah Petros (2)

23. Risalah Yuhana (1)

24. Risalah Yuhana (2)

25. Risalah Yuhana (3)

26. Risalah Yahuza

27. Mimpi Yuhana

Tidaklah dapat disangkalkan apabila Nabi saw disebut di dalam Kitab Perjanjian Lama yang merupakan Kitab Suci bagi kaum Yahudi, secara tidak langsung ia juga menjadi bukti terhadap kaum Nasrani (Kristian) kerana mereka juga beriman dengannya dan menganggapnya sebahagian daripada kitab suci mereka. Apa yang telah dipaparkan mengenai perkhabaran-perkhabaran tentang Nabi saw di dalam Perjanjian Lama telah cukup untuk menjadi hujah ke atas Yahudi dan Nasrani dengan serentak kerana mereka semua mempercayai bahawa ianya wahyu daripada Allah swt, kecuali mereka berusaha memalingkan maksudnya kepada sebaliknya.

Adapun perkhabaran-perkhabaran dan isyarat-isyarat mengenai Nabi saw di dalam Kitab Perjanjian Baru amatlah banyak. Sesungguhnya Nabi Isa as banyak membawa berita gembira mengenainya kerana tidak terdapat di antara Beliau dengan Nabi saw oleh nabi yang lain. Disebabkan demikian berita-berita mengenainya amat banyak sehinggakan juga terdapat di dalam Kitab-kitab Injil yang sudah diubah. Di antaranya seperti berikut:

1. Di dalam Yuhana (16/7) Isa Al-Masih berkata: “Adalah suatu yang baik bagi kamu bahawa aku akan meninggalkan sekalian kamu jauh, kerana sekiranya tidak aku pergi sesungguhnya orang yang membawa hidayat itu tidak akan mendatangi kamu, tetapi bahawasanya apabila telahku pergi, akanku utuskan beliau kepada kamu”

2. Kemudian Isa Al-Masih menerangkan sifat pembawa hidayat itu dengan katanya:“Sesungguhnya dia tidak sekali-kali mengeluarkan perkataan daripada dirinya sendiri, tetapi dia akan berkata-kata mengikut apa yang dia dengari daripada wahyu”.(Yuhana 16/3)

Ini adalah suatu yang disifatkan oleh Allah swt mengenai Nabi saw di dalam Al-Quran di mana firmanNya bermaksud: “Tidaklah ia melainkan wahyu yang diturunkan kepadanya”. (An-Najm;4)

3. Di dalam Yuhana (14/16) berkata Isa Al-Masih: “Akan daku memohon daripada Bapa, dia akan mengurniakan kepada kamu semua Paracletus yang lain yang akan bersama kamu selama-lamanya”.

Perkataan Paracletus dari segi lafaznya bererti Ahmad (Yang Terpuji). Inilah adalah berbetulan dengan apa yang difirmankan oleh Allah swt yang bermaksud:

“Daku (Isa Al-Masih) membawa khabar gembira berkenaan rasul yang akan datang selepasku bernama Ahmad” (As-Shaf:5)

4. Di dalam Matta (11/14) berkata Isa Al-Masih: “Sekiranya kamu mahu menerima, maka inilah dia Iliya yang teguh keazamannya, nanti akan tiba kedatangannya, sesiapa yang mempunyai dua telinga hendaklah dia dengar.”

Kiraan daripada jumlah huruf perkataan Iliya sama dengan kiraan jumlah perkataan Ahmad.

5. Di dalam Matta (17/11) berkata Isa Al-Masih: “Sesungguhnya Iliya akan tiba pertama kalinya dan dia akan mendatangi segala sesuatu.”

6. Di dalam Matta (21/32) Selepas Isa Al-Masih membuat perumpamaan seorang tuan rumah yang menanam anggur dan menyerahkannya kepada penanam-penanam anggur, Isa Al-Masih seterusnya berkata: “Adakah tidak kamu baca di dalam kitab-kitab, sesungguhnya batu yang telah dipinggirkan oleh pembina-pembina binaan telah menjadi tapak kepada dinding-dinding bangunan daripada pihak tuhan. Ini merupakan suatu perkara yang pelik dan pelik pada mata-mata kita. Kerana demikian daku menegaskan kepada kamu, sesungguhnya kerajaan Allah akan dicabut daripada kamu dan akan diberikan kepada umat yang mengusahakan buah-buahnya. Barangsiapa jatuh ke atas batu tersebut dia akan hancur dan barangsiapa yang ditimpa batu itu dia akan binasa”.

Batu yang dimaksudkan oleh Isa Al-Masih itu merujuk kepada Nabi Ismail as yang telah dipinggirkan bersama-sama ibunya oleh Sarah (Isteri Nabi Ibrahim as). Adalah suatu perkara yang pelik di sisi Bani Israel bahawa kerajaan Allah akan dicabut dan diberikan kepada keturunan saudara-saudara mereka iaitu bangsa Arab, sebagaimana juga merupakan perkara pelik bagi mereka bahawa Hajar (Ibu Nabi Ismail as) bukanlah seorang yang merdeka pada mula-mulanya, dia hanyalah hamba kepada Sarah. Nabi saw yang lahir daripada keturunan Nabi Ismail as itulah yang dimaksudkan dengan batu yang menjadi tapak binaan yang Allah swt reda terhadap sesiapa yang mengikutinya dan membinasakan sesiapa yang ingkar terhadapnya di dunia dan di akhirat.

7. Di dalam Yuhana (4/19,20,21) perbualan seorang perempuan dengan Isa Al-Masih di mana perempuan itu berkata kepada Al-Masih: “Wahai penghuluku, aku meyakini bahawa engkau seorang nabi. Sesungguhnya datuk moyang kami telah bersujud (sembahyang) pada bukit ini, dan engkau sentiasa berkata: Sesungguhnya pada Urasyalem merupakan tempat yang mesti dilakukan sujud padanya”. Lalu Al-Masih berkata kepadanya:

“Wahai perempuan, percayalah kepadaku sesungguhnya akan tiba suatu masa yang mana kamu tidak lagi bersujud padanya, tidak pada bukit ini dan tidak pada Urasyalem”.

Ini merupakan isyarat Nabi Isa as berkenaan pemalingan kiblat dan ianya bertepatan dengan apa yang difirmankan oleh Allah swt yang berbunyi:

“Akan berkata orang-orang bodoh dari kalangan manusia apakah yang memalingkan mereka (orang-orang yang beriman) daripada kiblat yang telah mereka berhadap ke arahnya (al-Baqarah;142)

hingga firmanNya berbunyi:

“Sesungguhnya kerap kali kami telah melihat engkau (wahai Muhammad) berulang-ulang mengadah ke langit, maka kami benarkan engkau berpaling menghadap kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram (tempat letaknya Kaa’bah) dan di mana sahaja kamu berada maka hadapkanlah muka-muka kamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah diberikan Kitab (Yahudi dan Nasrani) mengetahui bahawa ia adalah perintah benar dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak sekali-kali lalai terhadap apa yang mereka lakukan (Al-Baqarah;144)

8. Di dalam Yuhana (15/26) berkata Isa Al-Masih mengenai Nabi saw, ujarnya:“Sekiranya datang ‘Munhamana’ dialah orang yang Allah swt utuskan kepada sekalian kamu.”

Perkataan ‘Munhamana’ yang merupakan bahasa Siryani secara lafaznya bererti ‘Muhammad’. Perlu diambil perhatian bahawanya perkhabaran Nabi Isa as ini telah digugurkan daripada cetakan-cetakan baru bagi kitab Injil, tetapi ianya masih terdapat di dalam cetakan-cetakan yang lama bagi Kitab Injil.

9. Di dalam Yuhana (16/13) berbunyi: “ Apabila tibanya ruh kebenaran itu, maka dia akan memimpin kamu kepada seluruh kebenaran kerana dia tidak mengeluarkan perkataan daripada dirinya sendiri, bahkan dia berkata-kata mengenai apa yang dia dengari dan dia akan memberitahu kamu tentang perkara-perkara yang akan berlaku.”

Perkhabaran di dalam Kitab Injil Barnaba

Apa yang telah lalu merupakan isyarat-isyarat dan perkhabaran-perkhabaran yang terdapat di dalam 4 buah kitab Injil yang rasmi dan diakui di sisi kebanyakkan golongan-golongan Nasrani (Kristian). Kita tidak terdedah sehingga sekarang kepada Injil-injil yang tidak diakui oleh pihak gereja yang mana bilangannya lebih banyak, di antaranya adalah Kitab ‘Injil Barnaba’ yang terdapat di dalamnya khabar-khabar gembira mengenai Nabi Muhammad saw secara terang dan jelas. Di dalamnya juga terdapat penegasan bahasa Isa Al-Masih adalah seorang hamba Allah. Di sana terdapat kitab-kitab Injil yang lain yang wujud pada kurun pertama dan ke-dua Masihi tetapi kemudiannya dibatalkan oleh pihak gereja selain Injil Barnaba.

Di antara Injil-injil tersebut:

– Injil Abyon – Injil Tujuh Puluh

– Injil Yaakub – Injil Dua Belas

– Injil Thomas – Injil Peringatan

– Injil Nicodem – Injil Ibrani

– Injil Petros – Injil Mesir

– Injil Yason – Injil Many

– Injil Marqiune. –Injil Kehidupan

Yang menguatkan kewujudan Injil Barnaba dalam usia yang lama bahawa di sana terdapat catatan surat pekeliling yang telah dikeluarkan oleh Ketua Gereja Rom yang pertama iaitu Pope Glacius, telah menduduki kerusi Ketua Gereja pada tahun 492 Masihi iaitu 79 tahun sebelum kelahiran Nabi saw., di mana Baginda dilahirkan pada 571 Masihi.

Pope berkenaan telah menyenaraikan kitab-kitab Injil yang diharamkan membacanya, di antaranya ialah kitab yang dipanggil Injil Barnaba. Satu-satunya naskhah yang tekenal sekarang adalah naskah Itali yang terdapat di dalam perpustakaan Di Raja Viena. Ia dianggap kesan sejarah yang paling berharga di mana naskhah ini mempunyai 225 muka surat yang tebal daripada kertas yang dibuat daripada kapas dan dijilid dengan kertas yang kukuh serta dibalut dengan kulit.

Orang pertama yang menjumpai naskhah ini adalah Kremer, Menteri Raja Prusia sewaktu beliau menetap di Amsterdam. Beliau meminjam naskhah berkenaan pada tahun 1709 Masihi daripada perpustakaan salah seorang orang-orang kenamaan di Amsterdam. Selepas empat tahun kemudian pembesar Holand ini telah menghadiahkan naskhah terbabit kepada Prince Jugend Savoy yang berminat terhadap kesan-kesan sejarah. Naskhah ini kemudiannya berpindah bersama bahan-bahan perpustakaan Prince berkenaan ke perpustakaan di Raja Nemsa.

Sesungguhnya telah didapati naskhah yang lain di Sepanyol pada awal kurun ke-18 di dalam 220 muka surat yang mengandungi 222 fasal. Naskhah ini telah sampai ke tangan seorang orientalis bernama Sale, kemudiannya berpindah ke tangan Doktor Mancius yang merupakan salah seorang anggota sebuah fakulti di Oxford. Beliau lalu menterjemahkannya ke bahasa Inggeris.

Perkhabaran-perkhabaran di dalam Kitab Injil Barnaba yang menyebut tentang Nabi saw adalah seperti berikut:

1. Di dalam Barnaba (17/22-23) Isa Al-Masih berkata: “Akan datang selepasku kemegahan sekelian nabi-nabi dan wali-wali, dia akan keluar sebagai cahaya yang menerangi kegelapan-kegelapan yang menyulubungi perkataan para anbiya’, kerana dia adalah Rasulullah (utusan Allah).

2. Di dalam Barnaba (36/6) Isa Al-Masih berkata: “Sesungguhnya telah datang segala anbiya’ kecuali Rasulullah yang akan datang selepasku, kerana bahawasanya Allah mengkehendaki berlakunya demikian sehinggalah aku yang akan menyediakan jalannya.”

3. Di dalam Barnaba (42/13) ketika Isa Al-Masih di tanya adakah beliau rasul yang ditunggu-tunggukan itu? Beliau menjawab dengan katanya:“Sesunguhnya mukjizat-mukjizat yang Allah lakukan ke atas dua tanganku menunjukkan bahawa aku berkata-kata mengikut apa yang dikehendaki Allah. Tidaklah sekali-kali aku mengira diriku sebanding dengan orang yang kamu tanya mengenainya, kerana bahawasanya aku tidak layak untuk menghurai ikatan-ikatan kasut atau tali-tali sepatu Rasulullah yang kamu namakannya sebagai Mesiyyah (Utusan) itu. Dia dicipta sebelumku dan akan datang selepasku, dia akan membawa kata-kata kebenaran dan tidak ada bagi ugamanya itu kesudahan.”

Kebanyakan teks-teks di atas dan juga kesemua teks-teks Injil Barnaba menerangkan bahawa nabi yang ditunggu itu adalah Nabi Muhammad saw yang lahir daripada keturunan Nabi Ismail as dan ugamanya akan tersebar luas lagi diikuti, sedangkan kita tidak pernah mendengar tentang ugama yang tersebar serata dunia setelah Nabi Isa as melainkan ugama Islam.

Perkhabaran-perkhabaran di dalam kitab-kitab lain.

Bukanlah kitab-kitab umat dahulu kala hanya terbatas kepada kitab-kitab suci yang diturunkan daripada langit sahaja, bahkan termasuk di dalamnya kitab-kitab yang menjangkau usia yang lama. Di antaranya ialah kitab-kitab suci Ugama Hindu dan bilangannya amat banyak, tetapi secara umumnya ia terbahagi kepada empat bahagian:

1. Kitab Veda, yang bererti: Pengetahuan

2. Upanisyad

3. Purana, yang bererti : Usia Lampau

4. Brahmana Granat

Sesungguhnya kitab-kitab suci ini ditulis di dalam bahasa Sanskrit yang merupakan bahasa India Kuno. Tidak mengetahui bahasa ini sekarang melainkan hanya sami-sami Hindu.

Kitab Veda adalah dianggap sebagai kitab yang paling suci di antara segala kitab dan ia juga dikira sebagai kitab yang tertua di mana para ahli cendiakawan mereka berselisih pendapat mengenai tarikh penulisannya. Kebanyakan pendapat rata-rata mengatakan ianya ditulis sekitar 2000 atau 3000 tahun sebelum Masihi. Kitab Veda terbahagi kepada empat iaitu: Rig Veda, Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda.

Di dalam Sama Veda (2:6,8) terdapat sebutan mengenai Nabi saw secara terang-terangan di mana teks itu berbunyi: “Telah menerima Ahmad syariat ugamanya daripada tuhannya. Syariat ini keseluruhannya adalah hikmat. Sesungguhnya aku akan menerima daripadanya cahaya seperti cahaya matahari yang sempurna”.

Adapun Kitab Purana yang boleh kita terjemahkannya sebagai “Kitab-kitab Orang Dahulu Kala” disebabkan ertinya adalah “Usia Lampau”, ia merupakan kitab yang paling banyak tersebar di antara kitab-kitab suci lain. Ia membicarakan tentang cerita-cerita dongeng yang berkaitan dengan permulaan kejadian makhluk, kehidupan dewa-dewa dan raja-raja. Ia merupakan kitab yang paling banyak bilangannya, hampir empat puluh kitab semuanya. Di antaranya himpunan kitab yang dinamakan “Maha Purana” yang bererti Kitab Purana yang terbesar di mana ia terdiri daripada lapan belas buah kitab.

Di antaranya lagi himpunan kitab yang dinamakan Upa Purana iaitu Kitab Purana tambahan atau yang kedua dan ia terdiri daripada 18 buah kitab juga. Di sana terdapat empat buah kitab yang lain, salah satu daripadanya yang akan kita perkatakan mengenainya iaitu Kitab Pahaveshia Purana yang bererti “Purana Masa Hadapan”. Kitab ini menyebut tentang Nabi Adam as dan Hawa dengan panggilan Adaman dan Haryavati dan juga tentang keturunan mereka. Kitab ini juga menyebut tentang Nabi Isa as dengan panggilan “Anak Tuhan” dan turut menyebut tentang Nabi Muhammad saw.

Golongan Hindu menganggap bahawa teks-teks tersebut suatu pembohongan yang diadakan dan dimasukkan pada zaman Raja India bernama Akbar yang berusaha untuk menyatukan semua ugama, tetapi mereka tidak mempunyai bukti terhadap perkara itu, hanya dakwaan semata-mata. Sedangkan teks tersebut masih wujud sehingga hari ini.

Berikut adalah teks mengenai perkhabaran yang menyebut nama Nabi saw di dalam kitab Pahaveshia Purana (Barti Saraj Barap ke-3: 303 ayat yang ke-5) berbunyi: “Akan muncul Malitsyaha (seorang asing yang bukan berbangsa Hindi) sebagai guru rohani bersama pengikut-pengikutnya. Beliau dikenali dengan nama Muhammad Raja, setelah dianugerahkan Mahadeva berbangsa Arab ini pembasuhan di dalam Panjajavia dan air Janaj (penyucian daripada dosa). Sesungguhnya orang yang mempersembahkan hadiah-hadiah kepadanya menguatkan lagi kebenaran, dan aku melihatnya dengan penuh penghormatan sambil berkata: “Aku jadikan bagi engkau segala kemuliaan, wahai kemegahan padang pasir! Wahai yang mendiami bumi Arab! Demi sesungguhnya engkau telah menghimpun kekuatan yang besar untuk memerangi syaitan dan engkau adalah terpelihara daripada musuh-musuh dari golongan Malitsyaha (orang-orang asing yang bukan berbangsa Hindi, yang dimaksudkan ialah golongan kafir Quraish). Wahai gambaran tuhan yang tertinggi dan tuhan yang terbesar! Aku adalah hamba kepadamu, pimpinlah daku seperti seorang yang tercampak diantara dua kakimu”.

“Sesungguhnya golongan Malitsyaha telah mengusir syaitan yang sesat (Abrahah berbangsa Habsyi) yang telahku bunuh dan akan muncul pada kali yang lain seorang yang diutuskan daripada musuh yang kuat supaya mereka dapat melihat jalan yang lurus dan supaya diberikan mereka hidayat yang diketahui melalui Muhammad yang aku berikan kepadanya gelaran Brahma. Dia seorang yang bertungkus lumus menarik golongan Bhesaji kepada jalan kebenaran”.

“Wahai Raja! Tidak perlu engkau pergi kepada bumi golongan Bhesaji yang jahil itu bahkan engkau menjadi sebagai seorang yang menyucikan dengan anugerahku di mana sahaja engkau berada”. Pada suatu malam dengan peraturan daripada langit akan adanya seorang lelaki yang bersangatan kuat. Di dalam rupa seorang Bhesaji dia berkata kepada Raja Yahuja: “Wahai Raja! Sesunggunya Aryadaharmak telah dicipta untuk menguasai seluruh ugama, tetapi sebagai menepati wasiat-wasiat Asywar Barmatama maka sesungguhnya aku akan menguatkan akidah yang teguh bagi golongan yang memakan daging. Sesungguhnya orang yang mengikutiku akan menjadi seorang lelaki yang berkhatan, tidak mempunyai ekor rambut (iaitu rambut yang dibuat oleh sami-sami di bahagian belakang seperti ekor) yang melepaskan janggut, lagi melakukan kebangkitan, yang melaungkan seruan kepada sembahyang dan dia akan menjadi seorang yang memakan yang halal, ia akan memakan semua jenis binatang kecuali khinzir. Mereka tidak mencari kesucian pada tempat-tempat suci tetapi mereka menyucikan diri melalui peperangan dengan memerangi umat-umat yang tidak berugama. Sesungguhnya mereka dipanggil sebagai golongan Muslimani dan aku akan menjadi sebagai penegak kepada ugama ini yang merupakan ugama bagi umat yang memakan daging.”

Telah benar Allah Yang Maha Agung di mana dia berfirman: “Sesungguhnya demikian itu ada tersebut di dalam kitab-kitab orang yang dahulu kala.” (As-syu’ara : 196).

Seorang pendita hindu bernama Profesor Pandit Vedaprakash Upadhyay telah mengarang sebuah buku yang diberi tajuk: ‘Penjelmaan Kalki’ dan beliau menyebut di dalamnya bahawa kitab-kitab suci mereka menyebut bahawa nama bapa “Kalki” ialah “Bhagath Vishnu” yang bermaksud: “Hamba tuhan” di mana Vishnu bererti “tuhan” dan Bhagath bererti ‘hamba’. Ini menepati nama bapa Nabi saw iaitu Abdullah (Hamba Allah), sebagaimana nama ibu Kalki pula ialah Sumanib yang bermaksud: Ketenangan, kesejahteraan atau keamanan. Ini menepati nama ibu Nabi saw iaitu Aminah. Di antara sifat-sifat Kalki ialah beliau mempunyai kuda yang boleh terbang ke permukaan langit dan ini menepati binatang Buraq, sebagaimana Kalki adalah dilahirkan di kepulauan pada hari yang ke-12. Sesungguhnya Nabi saw juga lahir pada kepulauan Arab pada hari yang kedua belas Rabiul Awal. Disebut juga bahawa makanan Kalki adalah buah tamar dan zaitun dan beliau adalah manusia yang paling benar, paling beramanah dan beliau sentiasa membawa pedang.

Sememangnya penganut-penganut Hindu menyandarkan di dalam kitab-kitab mereka kepercayaan terhadap dewa-dewa dan kepercayaan-kepercayaan karut, mereka juga mempercayai bahawa Kalki itu adalah jelmaan dewa-dewa, dia adalah yang awal dan yang akhir di mana dia adalah dewa yang sangat berkuasa, di lahirkan dari keluarga Hindu.

Tulisan ini merupakan tinjauan terhadap perkhabaran-perkhabaran gembira yang terdapat di dalam kitab-kitab suci di sisi umat-umat yang terdahulu. Semoga Allah memberi hidayat dengannya kepada mereka yang masih tidak beriman dengan Nabi kesudahan yang dijanjikan iaitu Muhammad saw dan Semoga Allah menambahkan keyakinan kepada orang-orang yang mengikutinya terhadap ugama mereka sehingga mereka akan mewarisi bumi keseluruhannya, menepati firman Allah yang berbunyi:

“Supaya menjadi yakin oleh mereka yang diberikan kitab dan bertambah keimanan orang-orang yang telah beriman dan supaya tidak merasa ragu oleh orang-orang yang diberikan kitab dan orang-orang yang beriman.” (Al-Mudassir : 31)

DARIPADA MAJALAH “AN-NUR AL-MUHAMMADI” Bilangan ke-4,2007M/1428H)

Saringan Buah Pena Al-Ustadz Dr Ali Jumaat (Mufti Negara Mesir)

Keluaran : Maktabah Darul Jawamiul Kalim

Penterjemah:

Nik Mohd Shahrail Bin Nik Ibrahim

Jun 2009M / Jumada Akhir 1430H

http://albakriah.wordpress.com/

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »